Lauran | https://lensapublik.my.id – Sabtu, 29 Agustus 2026. Keberanian menyuarakan kebenaran sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Di tengah godaan kompromi terhadap kesalahan demi kenyamanan semata, ketegangan antara keberanian moral dan rasa takut menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Renungan mendalam mengenai integritas moral ini disampaikan oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Mengangkat kisah keteladanan Yohanes Pembaptis dari Injil Markus (Mrk. 6:17-29), beliau menekankan pentingnya menjadi pribadi yang jujur dan berani menegur kekeliruan tanpa ragu.
Dalam khotbahnya, Pastor Pius menegaskan bahwa keberanian Yohanes Pembaptis sewaktu menegur Herodes dan Herodias merupakan cermin bagi umat beriman saat ini untuk tidak berdiam diri di hadapan penyimpangan.
”Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu. Saudaraku, Yohanes Pembaptis, pribadi yang berani dan jujur berkata tentang kebenaran. Tampil menegur dan mengoreksi cara hidup sesat Herodes dan Herodias. Kita dipanggil untuk berani bicara benar, meluruskan yang bengkok jalannya,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.
Ia menyadari betul bahwa berdiri di atas garis kebenaran bukanlah perkara mudah. Sikap kritis terhadap ketidakadilan sering kali mengundang penolakan dan permusuhan, terutama dari pihak-pihak yang telah merasa nyaman dalam lingkaran kekuasaan atau gaya hidup yang salah.
”Pasti kita dibenci, dimusuhi dan ditolak oleh mereka yang berkuasa, dan orang nyaman dalam hidup sesat. Jangan biarkan rasa takut membelenggu dirimu sehingga kompromi dengan kejahatan/dosa,” lanjutnya.
Lebih jauh, Pastor Pius mengingatkan bahaya laten dari sifat penakut dan dendam yang dapat merusak tatanan hidup bersama. Figur Herodes yang takut kehilangan kuasa serta Herodias yang memelihara kebencian hendaknya menjadi pengingat agar setiap individu tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.
”Herodes tahu tentang mana yang benar, tapi takut kehilangan muka, kuasa dan kenikmatan duniawi. Dosa terbesar kita adalah tahu tentang kebenaran tapi diam untuk mengatakan karena takut. Jangan jadi Herodes yang takut dan Herodias yang pendendam dalam hidup bersama. Dendam itu racun yang merusak diri dan membunuh sesama,” tegas Pastor Pius mengakhiri renungannya.
(Editor: johanis kopong)












