Pentingnya Minyak dalam Pelita: Menjadi Pribadi Bijaksana dalam Beriman

https://lensapublik.my.id | Saumlaki, Jumat, 28 Agustus 2026 – ​Kisah sepuluh gadis yang menantikan kedatangan pengantin pria menjadi perenungan mendalam bagi setiap orang percaya. Dari sepuluh gadis tersebut, lima diantaranya dikategorikan sebagai gadis yang bodoh karena membawa pelita tanpa mempersiapkan minyak cadangan. Sementara itu, lima gadis lainnya disebut bijaksana sebab mereka tidak hanya membawa pelita, tetapi juga memastikan persediaan minyak tetap aman.

​Pelita merupakan simbolisasi dari iman yang tampak secara lahiriah. Setiap orang percaya sering kali memiliki pelita tersebut berstatus sebagai umat Kristiani, aktif dalam kegiatan ibadat atau Misa, mengenakan kalung salib maupun Rosario, hingga rajin membaca Kitab Suci. Namun, hal-hal lahiriah itu berisiko menjadi tidak bermakna jika hati terasa kosong dan kehidupan rohani dibiarkan kering.

​Pastor Pius Heljanan, MSC menekankan pentingnya esensi pengayoman rohani agar umat tidak berhenti pada simbol formal semata. “Berjaga-jagalah sebab kalian tdk tahu akan hari maupun saatnya,” tegasnya saat mengutip perikop Kitab Suci.

​Beliau mengingatkan bahwa kehidupan spiritual membutuhkan dasar yang jauh lebih dalam. “Kita harus beriman lebih dari sekedar aksesoris. Kita butuh ‘minyak’ dlm beriman. Hubungan yg intim/intens dgn Tuhan, berserah pada kuasa Roh Kudus, hidup dlm kasih, pengampunan dan perbuatan baik. Ingat, Iman tanpa perbuatan, ibarat pelita tanpa minyak. Berimanlah secara benar dan bijaksana,” lanjut Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Melalui penegasan Injil Matius 25:1-13 ini, seluruh umat diundang untuk terus merawat hubungan yang erat dengan Sang Pencipta dan mewujudkannya dalam tindakan kasih sehari-hari, agar pelita iman tetap menyala terang di setiap saat.

​Oleh : Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku

​Editor: johanis kopong

(Sumber: Mat. 25:1-13 / Renungan Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *