Pohon Dikenal dari Buahnya: Menjaga Ketaatan Iman dan Kebaikan Hati di Tanah Tanimbar

Menata Fondasi Iman di Kuasi Paroki Lauran: Pesan Menyentuh Pastor Pius Heljanan, MSC

Tanimbar Selatan | https://lensapublik.my.id – Sabtu, 12 September 2026. Suasana hening dan penuh khidmat menyelimuti kawasan Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Di tengah balutan angin pesisir yang tenang, bait-bait perenungan iman menggema membawa pesan mendalam bagi seluruh umat Katolik yang hadir.

​Pesan spiritual tersebut disampaikan langsung oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran. Dalam perenungannya yang mengutip Kitab Injil Suci Lukas bab 6 ayat 43 hingga 49, beliau menegaskan dua landasan penting yang wajib dihidupi oleh setiap orang beriman, yakni mengenai ikatan antara pohon dan buahnya, serta keutamaan fondasi bangunan hidup.

​Pastor Pius Heljanan, MSC, mengingatkan bahwa setiap perbuatan seseorang pada dasarnya mencerminkan apa yang tersimpan di dalam jiwanya. Beliau mengajak seluruh umat untuk senantiasa membuahkan kebaikan yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

​”Saudaraku, Injil ini berbicara tentang dua hal penting dalam hidup seorang beriman. Pertama, tentang pohon dan buahnya. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik dan bukan sebaliknya. Buah yang baik: kasih, kesabaran, pengampunan, kerendahan hati, syukur, dan lain-lain. Buah yang buruk: benci, dendam, gosip, fitnah, putus asa, dan lain-lain,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.

Fondasi Kehidupan Beriman

​Selain menekankan pentingnya menghasilkan buah-buah kehidupan yang positif, Pastor Pius Heljanan, MSC, juga menyoroti betapa krusialnya memiliki ikatan yang kuat dengan Sang Pencipta. Menurut beliau, iman yang tangguh tidak dibangun di atas kepalsuan atau sekadar tampilan luar semata, melainkan di atas pelaksanaan firman Tuhan yang sungguh-sungguh.

​”Kedua, tentang dasar. Rumah kuat fondasinya batu. Orang beriman sejati, bangun hidup atas dasar firman dan perbuatan baik. Kesatuan intim dan intens dengan Tuhan,” tutur beliau menambahkan.

Menjadikan Hati Takhta Kebaikan

​Di akhir perenungannya, beliau memberikan arahan moral agar setiap pribadi sungguh-sungguh merawat kesucian batinnya. Beliau meminta umat untuk tidak berpura-pura baik di hadapan sesama, melainkan benar-benar membenahi batin agar dapat menjadi sumber berkah bagi lingkungan sekitar.

​”Maka jadikan hatimu takhta Tuhan, agar semua yang keluar dari hatimu memantulkan kebaikan Allah dalam hidup. Jangan poles buah agar terlihat indah dan menarik. Di luarnya mulus, tapi dalamnya busuk dan berulat. Bereskan juga fondasi hidupmu, hidup berimanmu, agar menjadi berkat bagi diri dan sesama. Hatimu gudang kebaikan bukan tempat menimbun dosa dan kejahatan,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.

​(Editor: johanis kopong)

(Sumber: Renungan Injil Lukas 6:43-49 oleh Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *