Menghidupi Kasih Radikal: Ajakan Bermurah Hati dan Mengampuni dari Bumi Duan Lolat

 

Pesan Perdamaian dari Lauran: Menabur Kasih, Memetik Kebaikan Bersama

LAURAN | https://lensa publik.my.id – Kamis, 10 September 2026 – Di tengah dinamika kehidupan sosial yang kerap diwarnai dengan perbedaan dan kesalahpahaman, benih kebaikan dan kedamaian sejatinya terus disemaikan dari sudut Kepulauan Tanimbar. Kesadaran akan pentingnya keterbukaan hati untuk saling mengasihi serta mengampuni sesama menjadi panggilan hidup yang senantiasa relevan bagi setiap pribadi.

​Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, menegaskan pentingnya sikap bermurah hati dalam merawat tali persaudaraan sesama manusia. Menurut Beliau, kehidupan iman hendaknya tidak hanya berhenti pada tataran kebaikan yang umum, melainkan melampaui kebiasaan sehari-hari.

Panggilan Menghidupi Kasih Secara Radikal

​Manusia pada umumnya tidak dapat terlepas dari rasa berutang kasih dan pengampunan terhadap sesamanya. Walaupun berbuat baik dan saling mengasihi adalah hal yang wajar dilakukan oleh semua orang, para pengikut Kristus diajak untuk melangkah lebih jauh dalam standar moral dan spiritualitas yang tinggi.

​”Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati. Sabda Yesus untuk kita: pertama, kasihilah musuhmu; kedua, berbuat baik kepada orang yang membencimu; ketiga, minta berkat bagi orang yang mengutukmu; dan keempat, berdoalah bagi orang yang mencacimu,” ujar Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Beliau menyadari bahwa petunjuk dan perintah tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keterbatasan tersebut bukanlah tanda ketidakmungkinan, melainkan sebuah ajakan mulia untuk menghidupi kasih secara radikal dan tulus.

Memutus Mata Rantai Dendam

​Sikap murah hati dalam mengasihi dan mengampuni sesama yang berlaku kurang pantas merupakan wujud nyata dari kearifan jiwa. Langkah tersebut menjadi kunci utama dalam meretas dan memutus mata rantai dendam yang sering kali merusak kedamaian batin serta keharmonisan bermasyarakat.

​Pastor Pius Heljanan, MSC, juga mengingatkan kembali sebuah kalimat emas yang menjadi pijakan moral dalam berinteraksi dengan sesama:

​”Sebagaimana kalian kehendaki orang berbuat kepada kalian, demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka,” tuturnya mengutip pesan Injil Lukas bab 6 ayat 27 hingga 38.

​Sebagai penutup perenungan tersebut, Beliau menegaskan hukum kehidupan universal yang senantiasa berlaku dalam sejarah umat manusia. “Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai,” pungkasnya.

​(Editor: johanis kopong)

(Sumber: Renungan Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *