Firman Tuhan Menjadi Warisan Terbesar bagi Generasi
http://lensapublik.my.id | Saumlaki, Minggu, 28 Juni 2026 – Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan menyelimuti Ibadah Minggu Raya di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno. Di tengah pujian dan penyembahan yang mengantar jemaat memasuki hadirat Tuhan, pesan tentang pentingnya mewariskan iman yang kekal kepada generasi berikutnya menjadi inti pemberitaan firman yang disampaikan kepada jemaat.
Ibadah diawali dengan pujian dan penyembahan yang dipimpin Pelayan Tuhan Bima Boritnaban, didukung tim singer dan pemusik yang mengiringi dengan keyboard, drum, serta gitar. Alunan lagu-lagu rohani bernuansa syukur membawa jemaat memasuki suasana penyembahan, diawali dengan ajakan, “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur.”
Hati yang Subur Menjadi Tempat Bertumbuhnya Firman
Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Haris Boritnaban, S.Th. yang mengajak setiap jemaat mempersiapkan hati sebelum menerima firman. Menurutnya, kesiapan hati menentukan apakah firman Tuhan dapat dipahami dan menghasilkan perubahan hidup.
“Saya percaya saat ini semua siap dengar firman Tuhan. Berbahagialah orang yang siap mendengarkan firman Tuhan,” ujarnya.
Mengutip perumpamaan tentang penabur, ia menjelaskan bahwa benih yang jatuh di tanah berbatu maupun semak berduri tidak menghasilkan buah. Sebaliknya, hanya benih yang jatuh di tanah yang subur mampu bertumbuh dengan baik.
“Orang berkebun tentu tanah digemburkan dulu. Kualitas hati saudara yang menentukan firman Tuhan bisa masuk dan dimengerti. Hanya kuasa firman yang bisa mengubah saya dan saudara,” katanya.
Warisan Tidak Selalu Berupa Kekayaan
Memasuki pokok khotbah, Pdt. Haris mengangkat tema tentang warisan. Ia mengatakan, hampir setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Namun, warisan sering kali dipahami sebatas harta benda atau bekal materi untuk menjalani kehidupan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan hidup yang dibangun hanya di atas kekayaan dapat menyesatkan apabila mengabaikan nilai-nilai rohani.
Mengutip Ayub 20:19-20, ia mengingatkan bahwa harta tidak mampu memberikan ketenangan batin ataupun menjadi jaminan keselamatan.
“Jangan percaya, tertipu kepada harta, karena nilainya tidak abadi,” tegasnya.
Pesan tersebut diperkuat melalui Mazmur 49:5-9, yang menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat menebus nyawanya dengan kekayaan. “Alkitab mencatat kehidupan ini tidak abadi,” ujarnya.
Ia juga mengulas Mazmur 73:12-20, yang menggambarkan bahwa kemakmuran orang fasik hanyalah sementara dan pada akhirnya akan lenyap di hadapan Tuhan.
Mengejar Warisan yang Kekal
Merujuk Matius 6:19-20, Pdt. Haris mengajak jemaat mengubah orientasi hidup dari mengejar harta dunia menuju harta di surga yang tidak dapat dirusak oleh ngengat, karat maupun pencuri. “Hanya sedikit orang yang mau mengejar warisan kekal, warisan abadi,” katanya.
Ia juga mengingatkan isi Matius 6:31-32, bahwa Tuhan mengetahui seluruh kebutuhan umat-Nya sehingga orang percaya tidak perlu hidup dalam kekhawatiran terhadap kebutuhan hidup sehari-hari.
Orang Tua Mewariskan Iman kepada Anak
Melalui Mazmur 112:1-2, Pdt. Haris menjelaskan bahwa kehidupan orang benar membawa berkat hingga kepada anak cucunya.
Pesan itu dipertegas melalui 2 Timotius 1:5, ketika Rasul Paulus mengingat iman yang hidup dalam diri Lois, Eunike, dan kemudian diwariskan kepada Timotius.
Menurutnya, kualitas kehidupan rohani orang tua akan sangat memengaruhi kehidupan iman anak-anaknya. “Bila hidup saudara merah maka nilai iman juga merah, perhatikan nilai hidup saudara,” katanya.
Ia pun mengingatkan pentingnya pertobatan sebagai fondasi membangun generasi yang takut akan Tuhan. “Orang tua perlu bertobat. Bila tidak bertobat, orang tua sedang mencetak generasi yang jahat. Jagalah hidup suci di hadapan Tuhan,” pesannya.
Mazmur 23 Menjadi Peneguhan Iman
Mengakhiri khotbah, Pdt. Haris mengajak jemaat merenungkan Mazmur 23, yang menegaskan penyertaan Tuhan sebagai Gembala yang memelihara kehidupan umat-Nya.
Baginya, kebajikan dan kemurahan Tuhan merupakan warisan sejati yang tidak akan pernah habis oleh waktu maupun keadaan.
“Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”
Ibadah Ditutup dengan Ucapan Syukur
Pada sesi persembahan, Pelayan Tuhan Bima Boritnaban mewakili jemaat menyampaikan apresiasi kepada Pdt. Haris Boritnaban atas pelayanan firman yang telah disampaikan.
“Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ujarnya.
Gembala sidang bersama staf pelayanan juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali mengikuti ibadah di GBI Milos Saumlaki serta mengundang mereka untuk kembali bersekutu dalam ibadah-ibadah berikutnya.
Informasi mengenai ibadah komsel juga diumumkan dan dapat diakses melalui grup WhatsApp masing-masing komsel.
Ibadah Minggu Raya kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Pdt. Johan Batmomolin, S.Th.. Setelah ibadah usai, jemaat saling berjabat tangan, berbagi salam damai, dan kembali ke rumah masing-masing dengan sukacita, membawa pulang satu pesan yang terus bergema: warisan terbesar yang dapat diberikan kepada generasi berikutnya bukanlah harta benda, melainkan iman yang hidup kepada Tuhan.(jk)












