Mengukur Batas Kerahiman: Mengampuni Tanpa Hitungan, Merengkuh Kedamaian Hati

Kerahiman Allah dan Ketulusan Hati: Membuka Belenggu Dosa Lewat Pengampunan Hakiki

Kepulauan Tanimbar | lenspublik.my.id – Minggu, 13 September 2026

​Pengampunan sering kali menjadi salah satu kebajikan hidup yang paling rumit untuk dijalani oleh manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat, mengukur seberapa banyak kesalahan orang lain yang patut dimaafkan kerap menjadi beban batin tersendiri. Namun, pesan mendalam mengenai pengampunan tanpa syarat kembali disuarakan secara sejuk dari Bumi Cenderawasih Tanimbar.

​Pesan spiritual ini disampaikan oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Beliau menekankan pentingnya melampaui kriteria logis manusia dalam hal memaafkan sesama.

​”Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh puluh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Petrus mengira mengampuni tujuh kali sudah maksimal. Yesus mengajarkan kita mengampuni melampaui ukuran atau hitungan manusia. Penghapusan utang dalam perumpamaan Injil ini, bukti kerahiman Allah pada manusia,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.

Anugerah Pembebasan dan Kesadaran Batin

​Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kebebasan manusia dari jerat kesalahan pada hakikatnya adalah murni anugerah dari Yang Maha Kuasa. Manusia tidak akan pernah mampu melepaskan dirinya sendiri dari belenggu tersebut tanpa adanya belas kasih ilahi. Oleh karena itu, belas kasih yang telah diterima sudah sepantasnya diteruskan kepada sesama manusia.

​”Ketika kita jatuh dalam dosa dan memohon belas kasih Allah, Dia pasti membebaskan kita dari dosa. Tidak ada manusia yang mampu membebaskan dirinya dari belenggu dosa. Ini anugerah Allah semata. Pada saat yang sama, Allah menghendaki kita melakukan hal yang sama pada sesama yang melukai atau menyakiti kita,” jelasnya.

Bahaya Kebencian dan Pentingnya Rasa Syukur

​Di akhir perenangannya, Pastor Pius Heljanan, MSC, memberikan peringatan tersirat mengenai dampak buruk dari ketidakmampuan untuk memaafkan. Menyimpan dendam hanya akan merugikan diri sendiri dan menutup pintu rasa syukur atas kerahiman yang pernah diterima.

​”Orang yang sulit mengampuni sesama berada dalam keadaan lupa bahwa Tuhan telah mengampuninya; dia pribadi yang lupa bersyukur atas kerahiman dan belas kasih Allah padanya. Orang yang tidak mampu mengampuni sesamanya, sama dengan orang yang minum racun sambil berharap orang lain mati,” pungkas beliau.

​Editor: johanis kopong

(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC – Pastor Umat Kuasi Paroki Hati Kudus Yesus Lauran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *