http://lensapublik.my.id | Manila, Filipina – Di tengah kesibukan dunia akademik dan pembinaan calon imam di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Sabtu (27/6/2026), RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat Katolik untuk berhenti sejenak, merenungkan Sabda Tuhan, dan kembali menemukan makna iman yang sederhana namun mendalam: kerendahan hati, kepercayaan penuh kepada Tuhan, serta kasih yang nyata kepada sesama.
Melalui renungan bertajuk “Sejenak Sabda”, Pastor Mahasiswa di UST Manila itu mengangkat pesan Injil Matius 8:5-17 tentang iman seorang perwira yang datang memohon kesembuhan bagi hambanya.
Kisah tersebut, menurutnya, bukan sekadar cerita mukjizat, melainkan cermin perjalanan iman setiap orang beriman dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup.
Kerendahan Hati Membuka Jalan Kasih Tuhan
Dalam refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa penghalang terbesar manusia untuk mengalami karya Allah justru sering berasal dari dirinya sendiri, yakni keangkuhan.
Ia mengajak umat untuk berani mengakui keterbatasan sebagai manusia dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada penyelenggaraan Tuhan.
“Keangkuhan sering kali menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk mengalami kasih Tuhan. Oleh karena itu, mari kita belajar merendahkan hati. Akui dengan jujur di hadapan-Nya bahwa kita terbatas dan membutuhkan pertolongan-Nya. Iman yang sejati tidak mendikte Tuhan, melainkan berserah penuh pada kedaulatan dan rencana-Nya,” ungkap RD. Domincs Baldawins Masriat.
Pesan tersebut menjadi ajakan agar iman tidak dibangun di atas kesombongan ataupun keinginan memaksakan kehendak kepada Tuhan, melainkan bertumbuh melalui sikap rendah hati dan kepercayaan yang utuh.
Jangan Membatasi Kuasa Tuhan
Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak pada ukuran logika dan kemampuan sendiri. Padahal, menurut RD. Domincs Baldawins Masriat, karya Tuhan tidak pernah dibatasi oleh ruang, waktu, maupun perhitungan manusia.
Ia mengingatkan bahwa ketika menghadapi persoalan keluarga, tekanan hidup, atau berbagai jalan buntu, umat dipanggil untuk memiliki iman sebagaimana perwira dalam Injil.
“Berapa banyak dari kita yang sering kali membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita? Ketika hari ini kita menghadapi jalan buntu, masalah keluarga, atau kecemasan yang berat, milikilah iman seperti perwira ini.
Percayalah bahwa firman Tuhan sanggup bekerja melampaui jarak, waktu, dan segala kemustahilan duniawi. Cukup pegang janji firman-Nya, maka kedamaian akan mengalir dalam hatimu,” tuturnya.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan iman tidak diukur dari kemampuan manusia menjelaskan segala sesuatu, melainkan dari keberanian mempercayakan hidup kepada penyelenggaraan Allah.
Iman Harus Terlihat dalam Kasih
Lebih jauh, RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa kualitas iman seseorang tidak hanya tampak dalam doa atau ibadah, tetapi juga dalam cara memperlakukan sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian.
Ia mengajak setiap orang untuk menghadirkan kasih Tuhan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kualitas iman kita diuji dari bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang ‘kecil’, lemah, atau mereka yang tidak bisa memberikan keuntungan materi bagi kita.
Hari ini, luangkan waktu untuk memperhatikan sesama di sekitar kita: entah itu anggota keluarga yang sedang lelah, rekan kerja yang sedang tertekan, atau mereka yang membutuhkan uluran tangan. Jadilah perpanjangan tangan kasih Tuhan bagi mereka,” pesannya.
Menurutnya, kasih yang diwujudkan dalam tindakan sederhana justru menjadi kesaksian iman yang paling nyata di tengah masyarakat.
Menjadi Pembawa Harapan
Menutup renungannya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak seluruh umat untuk memohon rahmat agar semakin diteguhkan dalam iman kepada Tuhan sekaligus semakin peka terhadap penderitaan sesama.
Doa sederhana yang dipanjatkannya menjadi harapan agar setiap orang mampu menjadi saksi kasih Allah di mana pun berada. “Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu memiliki iman yang teguh kepada-Mu dan kasih kepada sesama yang lemah.”
Di tengah dunia yang penuh tantangan dan ketidakpastian, refleksi singkat dari Manila ini mengingatkan bahwa iman sejati tidak hanya tumbuh dalam doa, tetapi juga diwujudkan melalui kerendahan hati, kepercayaan tanpa syarat kepada Tuhan, dan keberanian mengasihi sesama tanpa membedakan siapa pun.(jk)














