http://lensapublik.my.id| Saumlaki – Di tengah kehidupan yang dipenuhi berbagai tantangan, kegagalan, dan keterbatasan manusia, kesetiaan kepada Tuhan menjadi fondasi yang tidak tergantikan. Pesan itulah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam renungan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Senin (29/6/2026).
Berangkat dari bacaan Injil Matius 16:13-19, Pastor Pius mengajak umat untuk merenungkan pengakuan iman Rasul Petrus yang menjadi tonggak penting dalam sejarah Gereja. Menurutnya, pengakuan Petrus lahir dari pengalaman pribadi bersama Kristus, bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh dari orang lain.
“Engkaulah Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”
Pastor Pius menjelaskan bahwa ketika Yesus bertanya kepada para murid mengenai jati diri-Nya, Simon Petrus menjawab dengan penuh keyakinan.
“Engkaulah Mesias, Putra Allah yang hidup.”
Baginya, jawaban tersebut merupakan bentuk pengakuan iman yang benar sekaligus menjadi teladan bagi setiap orang beriman hingga saat ini.
Menurut Pastor Pius Heljanan MSC, iman yang sejati tidak dibangun atas dasar cerita atau pendapat orang lain, melainkan melalui pengalaman pribadi bersama Tuhan yang terus dipupuk dalam kehidupan sehari-hari.
“Yesus menghendaki kita beriman secara benar dan personal. Beriman berdasarkan pengenalan pribadi akan Tuhan melalui membaca dan merenungkan firman, doa, refleksi, serta ibadat atau misa secara rutin. Mengenal Tuhan bukan sekadar mempelajari atau mendengar cerita dari orang lain.”
Ia menegaskan bahwa perjalanan iman Petrus sendiri tidak selalu berjalan mulus. Rasul Petrus pernah mengalami kelemahan bahkan menyangkal Yesus. Namun, di balik kerapuhannya, Petrus tetap menunjukkan kesetiaan untuk kembali mengikuti dan melayani Kristus.
Karena kesetiaan itulah, Yesus mempercayakan kepadanya tugas besar sebagai pemimpin Gereja dan pewarta Injil.
“Petrus bukan pribadi sempurna dalam hidup beriman, tetapi dia pribadi setia dalam mengikuti Yesus. Dalam kerapuhan diri Petrus, Yesus mempercayakannya sebagai pemimpin dan pewarta iman yang benar.”
Pastor Pius menekankan bahwa Gereja tidak dibangun di atas kesempurnaan pribadi Petrus, melainkan di atas pengakuan imannya kepada Kristus. Pesan tersebut menjadi penghiburan bagi setiap orang yang merasa memiliki banyak kekurangan dalam hidup. “Ingat, Gereja didirikan di atas pengakuan iman Petrus, bukan di atas kesempurnaan Petrus.”
Melalui refleksi ini, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat agar tidak berkecil hati oleh berbagai kelemahan yang dimiliki. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk tetap setia berjalan bersama Kristus, karena kesetiaan itulah yang menjadi dasar Allah mempercayakan karya-karya besar kepada manusia.
“Dirimu tidak sempurna, tetapi setia dalam beriman, maka Tuhan mengasihimu dan menghendakimu mewartakan kabar gembira melalui kata dan perbuatan baik. Jangan tinggalkan Yesus.”
Menutup renungannya, Pastor Pius mengajak seluruh umat menjadikan pengakuan iman Petrus sebagai inspirasi untuk terus bertumbuh dalam relasi pribadi dengan Kristus, sehingga setiap perkataan, tindakan, dan pelayanan menjadi kesaksian nyata tentang kasih Allah di tengah dunia.(jk)












