https://lensapublik.my.id | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Jumat,24 Juli 2026- Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengajak umat untuk melakukan refleksi iman melalui perumpamaan tentang seorang penabur sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius 13:18-23.
Pesan rohani tersebut mengajak setiap umat untuk melihat kembali keadaan batin masing-masing. Sabda Tuhan tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu diterima dengan hati terbuka, dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Empat Gambaran Hati Manusia
Dalam refleksinya, Pastor Pius menjelaskan bahwa perumpamaan tentang penabur menggambarkan empat jenis tanah yang sekaligus menjadi gambaran tentang kondisi hati manusia ketika menerima Sabda Tuhan.
“Org yg mendengarkan sabda dan mengerti, menghasilkan buah,” demikian pesan yang disampaikan Pastor Pius dalam refleksi imannya.
Ia menjelaskan, hati manusia pertama-tama dapat menyerupai tanah di pinggir jalan. Hati semacam ini digambarkan sebagai hati yang keras dan tertutup terhadap Firman Tuhan. Sabda yang didengar tidak mendapat ruang untuk tumbuh karena tidak diterima secara sungguh-sungguh.
Ada pula hati yang diibaratkan sebagai tanah berbatu. Menurut Pastor Pius, seseorang dengan kondisi hati seperti ini mungkin mengalami sukacita ketika mendengarkan Firman Tuhan, tetapi sukacita tersebut hanya bertahan sementara. Ketika menghadapi persoalan dan kesulitan hidup, iman mudah goyah, seseorang dapat kehilangan harapan, bahkan menyalahkan Tuhan maupun sesama.
Ketika Dunia Menggeser Tuhan dari Hati
Gambaran berikutnya adalah hati yang dipenuhi semak duri. Dalam refleksinya, Pastor Pius mengingatkan bahwa hati manusia dapat dengan mudah dipengaruhi berbagai godaan kehidupan.
Keinginan terhadap materi dan kesenangan duniawi dapat mengambil tempat yang seharusnya diberikan kepada Tuhan. Ketika perhatian manusia terlalu terpusat pada kepentingan duniawi, kehidupan iman perlahan dapat tersisihkan.
Pesan ini menjadi sebuah ajakan reflektif agar umat tidak membiarkan kesibukan, ambisi, keinginan duniawi, maupun berbagai godaan kehidupan membuat hubungan dengan Tuhan semakin jauh.
Menjadi Tanah yang Baik
Namun, dari keempat gambaran tersebut, terdapat satu tanah yang mampu menghasilkan buah. Itulah tanah yang baik.
Pastor Pius menggambarkan hati yang baik sebagai hati yang terbuka untuk mendengarkan, memahami, dan menerima Sabda Tuhan. Hati seperti ini tidak berhenti pada pendengaran, tetapi menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
“Hati tanah yg baik: terbuka mendengar, mengerti dan menerima firman Tuhan. Setia pada Tuhan, selalu berbuat baik dlm hidup. Mau selalu menjadi berkat bagi sesama,” demikian refleksi Pastor Pius.
Bagi umat Kristiani, iman tidak semestinya hanya tampak dalam kata-kata dan kegiatan keagamaan. Iman menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, melalui kesetiaan kepada Tuhan, kepedulian terhadap sesama, kerendahan hati, pengampunan, serta keberanian untuk terus berbuat baik.
Sabda Tuhan Harus Mengubah Kehidupan
Refleksi Pastor Pius membawa umat pada satu pertanyaan mendasar: Seperti apakah tanah hati kita saat ini?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana Sabda Tuhan bertumbuh dalam dirinya. Hati yang keras dapat dilunakkan. Tanah berbatu dapat dibersihkan. Semak duri dapat disingkirkan. Dengan keterbukaan dan ketekunan dalam iman, hati manusia dapat dipersiapkan menjadi tanah yang subur.
Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, pesan tersebut menjadi relevan. Dunia menawarkan berbagai pilihan yang dapat membawa manusia semakin dekat kepada kebaikan, tetapi sekaligus dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai iman dan kasih.
Karena itu, menjadi tanah yang baik berarti terus menjaga hati agar tetap terbuka kepada Tuhan dan peka terhadap kebutuhan sesama.
Berbuah dalam Kebaikan
Pada akhirnya, Pastor Pius mengajak umat untuk tidak berhenti hanya sebagai pendengar Sabda Tuhan. Setiap Firman yang diterima harus menghasilkan perubahan dan buah nyata dalam kehidupan.
“Berjuanglah selalu menjadikan hatimu tanah terbaik berbuah kebaikan,” pesan Pastor Pius.
Ajakan tersebut menjadi sebuah panggilan sederhana sekaligus mendalam. Menjadi tanah subur berarti menghadirkan kehidupan yang memberi ruang bagi kasih Tuhan untuk bertumbuh dan berbuah melalui perbuatan nyata.
Sebab, ketika hati manusia sungguh menjadi tanah yang baik, iman tidak hanya tinggal dalam ruang ibadah atau dalam kata-kata, tetapi hadir di tengah keluarga, lingkungan, Gereja, dan masyarakat. Di sanalah Sabda Tuhan menemukan buahnya: ketika manusia mampu menjadi berkat bagi orang lain.(Editor: jk)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)












