Melayani Tanpa Tapi: Menyelami Kedalaman Kasih Lewat Perumpamaan Pekerja Kebun Anggur

Melampaui Keadilan Dunia: Renungan Pastor Pius Heljanan tentang Ketulusan Melayani

​LAURAN | https://lensapublik.my.id – Minggu, 20 September 2026. Di tengah hening dan tenangnya suasana Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, terangkai sebuah pesan iman yang menyejukkan hati. Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, menggembalakan permenungan tentang hakikat tulusnya sebuah pengabdian dan pelayanan spiritual.

Perumpamaan Pekerja Kebun Anggur

​Perikop Injil Matius bab 20 ayat 1 hingga 16a menjadi dasar pencerahan yang disampaikan oleh Pastor Pius Heljanan, MSC. Beliau mengarahkan perhatian umat pada kisah pemilik kebun anggur yang memberikan upah setara kepada seluruh pekerjanya, baik mereka yang telah memeras keringat sejak jam six pagi maupun pekerja yang baru bergabung pada jam five sore.

​Dalam dinamika kehidupan, keputusan sang pemilik kebun kerap memicu gejolak serta rasa tidak puas. “Engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat?” demikian keluhan yang mencerminkan betapa manusia sering kali mengukur segala sesuatu berdasarkan kalkulasi dan hitungan duniawi.

Melampaui Keadilan Duniawi

​Melalui narasi tersebut, Pastor Pius Heljanan, MSC, menekankan bahwa Yesus mengajarkan nilai kasih dan kemurahan hati yang jauh melampaui standar keadilan manusia. Rasa iri hati serta tuntutan atas jasa sering kali menjadi akar dari berbagai keluhan dalam hidup beragama.

​Beliau mengingatkan agar setiap pribadi tidak terjebak dalam pemikiran bahwa pengorbanan, sumbangan materi, atau keaktifan dalam pelayanan gerejani menjadikan Tuhan berutang kepada manusia.

​”Jangan berpikir, dengan semua jasa itu, Tuhan berhutang padamu,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC, menegaskan pentingnya kesadaran spiritual.

Menjawab Kasih yang Telah Lunas

​Setiap pengabdian dan kebaikan hendaknya dimaknai sebagai wujud rasa syukur atas keselamatan yang telah dianugerahkan. “Sadarilah, semua yang kita lakukan telah dibayar lunas oleh Yesus di kayu salib. Tuhan telah bermurah hati mencarimu untuk diselamatkan, maka saatnya kita membalas kasih Tuhan dengan melayani dan berbuat baik,” lanjut beliau.

​Mengakhiri permenungan tersebut, Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak seluruh umat untuk senantiasa melayani dengan ketulusan hati tanpa pernah mengkalkulasi kebaikan yang telah diperbuat. “Jangan berhitung kebaikanmu dengan Tuhan,” pesan beliau menutup narasi permenungan.

​Editor: johanis kopong

(Sumber: Renungan Injil Matius 20:1-16a oleh Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *