DESA LAURAN | https://lensa publik.my.id — Senin, 31 Agustus 2026.Suasana tenang nan syahdu menyelimuti Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Di tengah keseharian umat yang bersahaja, terucap sebuah pesan ketenangan hati dan ajakan untuk membebaskan diri dari belenggu rasa iri terhadap keberhasilan orang lain.
Pastor Umat Kuasi Paroki Hati Kudus Yesus Lauran, Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak umat untuk merenungkan makna mendalam dari Kitab Suci Injil Lukas bab 4 ayat 16 hingga 30. Kisah sejarah tentang masyarakat Nazaret yang menyimpan kejengkolan karena mukjizat terjadi di tempat lain menjadi cermin introspeksi bagi kehidupan modern saat ini.
”Perbuatlah di sini, ditempat asalmu ini, segala yg kami dengar telah terjadi di Kapernaum,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC mengutip narasi Injil.
Pastor Pius mengingatkan agar umat manusia tidak terjebak menjadi “orang Nazaret modern” yang cenderung menginginkan Tuhan bertindak sesuai dengan kehendak pribadi semata, serta kerap merasa tidak senang saat melihat orang lain menerima kelimpahan berkat.
”Saudaraku, org Nazaret marah kepada Yesus karna aneka mujizat yg dilakukan pada org ditempat lain, dan bukan ditempat asalNya. Bagi mereka, Yesus harus menunjukkan kehebatanNya di Nazaret. Yesus hadir sebagai Tuhan yg menunjukkan kasihNya pada semua org, tanpa membeda-bedakan. Semua org harus diberkati,” ungkap Pastor Pius dengan penuh kelembutan.
Menurutnya, kesalehan lahiriah seperti rajin beribadat dan berbuat baik hendaknya diimbangi dengan ketulusan nurani yang tidak tertutup oleh prasangka maupun kedengkian terhadap sesama.
”Hati² agar jgn jadi ‘org Nazaret’ modern. Kenal Yesus dari luar sja, Tuhan harus bertindak sesuai kemauan diri dan marah bila Tuhan memberkati org lain, apalagi musuh. Jgn rajin ibadat/misa, melayani dan berbuat baik, tpi hati tertutup. Tdk ikhlas melihat org lain diberkati Tuhan: sukses, sehat, berbuat baik dan hidup bahagia,” pesannya.
Melalui perenungan ini, umat diajak untuk terus memelihara kelapangan dada dan mensyukuri setiap dinamika kehidupan. Berkat yang diterima oleh sesama bukanlah pengurangan atas hak pribadi, melainkan wujud keadilan dan kasih keilahian yang melingkupi setiap insan.
”Jgn iri melihat sesama diberkati, tpi sadarilah setiap org diperlakukan Tuhan secara adil sesuai kehendakNya,” pungkas Pastor Pius Heljanan, MSC.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Perenungan Spiritual Pastor Pius Heljanan, MSC)












