http://lensapublik.my.id | Kepulauan Tanimbar – Menempatkan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidup bukan sekadar ungkapan iman, melainkan sebuah pilihan yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian untuk tetap setia mengikuti kehendak-Nya di atas segala kepentingan duniawi. Ketika Kristus benar-benar menjadi yang pertama, kasih kepada sesama pun tumbuh secara tulus karena berakar pada kasih Allah sendiri.
Pesan itu disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam renungan Hari Minggu Biasa XIII, Minggu, 28 Juni 2026, yang berpedoman pada Injil Matius 10:37-42.
Mengangkat tema “Jadikan Jesus Number One dalam Hidupmu”, Pastor Pius menegaskan bahwa mengimani Yesus sebagai Tuhan tidak cukup hanya diucapkan melalui pengakuan iman, tetapi harus diwujudkan dalam komitmen hidup yang menempatkan Kristus di atas segala sesuatu.
“Siapa saja yang mengasihi… lebih daripada mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Menurut Pastor Pius, sabda Yesus tersebut merupakan panggilan kepada setiap orang beriman untuk memiliki kesetiaan yang radikal. Seorang murid Kristus dituntut menjadikan Yesus sebagai prioritas utama, memikul salib, rela berkorban, dan menghadirkan kasih melalui tindakan nyata kepada sesama.
“Mengimani Yesus sebagai Tuhan, maka Dia menuntut kesetiaan yang radikal di atas segala hubungan duniawi. Standar kelayakan menjadi pengikut-Nya: menomor satukan Dia, memikul salib mengikuti-Nya, berkorban demi Dia dan berbuat baik kepada-Nya melalui sesama,” ujar Pastor Pius Heljanan MSC.
Ia mengingatkan bahwa kasih kepada Yesus tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, harta benda, uang, jabatan, ataupun berbagai kepentingan duniawi lainnya. Menurutnya, ketika manusia menempatkan hal-hal tersebut di atas Tuhan, arah kehidupan perlahan menjauh dari panggilan sejati sebagai pengikut Kristus.
“Mengasihi Yesus tidak boleh dikalahkan dengan lebih mencintai diri sendiri, keluarga, harta, uang, jabatan, dan lain-lain.”
Namun demikian, Pastor Pius menegaskan bahwa mengutamakan Kristus bukan berarti mengabaikan sesama. Justru sebaliknya, kasih kepada Tuhan akan melahirkan kasih yang semakin besar kepada orang lain, sebab Yesus sendiri hadir dalam diri setiap manusia.
“Sejatinya, bila kita sungguh mengasihi Yesus, pada saat yang sama kita dimampukan mengasihi sesama, karena Yesus mengidentifikasi diri-Nya dalam diri sesama.”
Mengutip sabda Kristus, Pastor Pius mengingatkan kembali pesan Injil bahwa setiap bentuk penerimaan terhadap sesama merupakan bentuk penerimaan terhadap Tuhan sendiri. “Siapa yang menyambut kamu, dia menyambut Aku.”
Karena itu, ia mengajak umat menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan agar setiap relasi dengan sesama dibangun di atas kasih yang tulus, penghormatan terhadap martabat manusia, serta semangat saling melayani.
“Bila kita prioritaskan Yesus dalam hidup, saat yang sama kita tempatkan sesama sebagai saudara yang pantas dicintai dan berbuat baik bagi mereka,” tutup Pastor Pius.
Renungan tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran seorang pengikut Kristus bukan hanya terletak pada banyaknya doa yang dipanjatkan, melainkan pada keberanian menempatkan Yesus sebagai “Number One” dalam setiap keputusan hidup. Dari sanalah lahir kesetiaan, pengorbanan, dan kasih yang mampu menghadirkan wajah Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.(jk)












