RD. Domincs Baldawins Masriat: Kasih kepada Tuhan Menjadi Fondasi Mengasihi Sesama

 

http://lensapublik.my.id | Manila Filipina – Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi berbagai tantangan, pesan Injil Minggu Biasa Pekan XIII kembali mengingatkan umat beriman untuk menempatkan kasih kepada Tuhan sebagai prioritas utama.

Dari kasih itulah lahir kemampuan manusia untuk mengasihi orang tua, anak-anak, dan sesama secara tulus tanpa syarat.

Pesan refleksi tersebut disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, dalam renungan Sejenak Sabda pada Minggu, 28 Juni 2026.

Berlandaskan bacaan liturgi dari 2 Raja-raja 4:8-11.14-16a, Roma 6:3-4.8-11, dan Matius 10:37-42, ia mengajak umat menjadikan Tuhan sebagai sumber kasih sejati yang menguatkan manusia menghadapi setiap dinamika kehidupan.

“Kasih kepada Tuhan harus di atas segalanya. Atau kasih kepada Tuhan harus menjadi fondasi atau dasar dalam mengasihi orangtua, anak-anak dan sesama. Karena Tuhan adalah sumber kasih sejati,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.

Menurutnya, tanpa kasih Tuhan, kemampuan manusia untuk mencintai sangat terbatas dan kerap bergantung pada situasi. Ketika menghadapi luka, kekecewaan, atau pengkhianatan, manusia mudah kehilangan kesabaran.

Namun, ketika hati berpusat kepada Tuhan, kasih karunia-Nya memberi kekuatan untuk tetap mengampuni, menerima sesama apa adanya, serta bertahan dalam pengorbanan.

“Tanpa kasih-Nya, kemampuan manusia untuk mengasihi sangat terbatas dan sering kali bersyarat. Dengan menjadikan Tuhan sebagai landasan, kita dimampukan untuk mencintai dengan tulus, sabar, dan tanpa mengharapkan balasan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kasih yang berakar pada Tuhan memampukan seseorang memikul salib kehidupan, termasuk ketika harus berkorban demi keluarga.

“Kita akan mampu menderita karena cinta kepada orangtua dan anak-anak. Kita akan mampu memikul salib karena mencintai orangtua dan anak-anak kita,” tuturnya.

Dalam renungan tersebut, RD. Domincs juga menekankan bahwa Tuhan tidak menilai besar kecilnya pemberian, melainkan ketulusan hati orang yang melayani.

Bahkan tindakan sederhana seperti memberikan secangkir air sejuk kepada sesama memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah.

“Tindakan pelayanan kasih sekecil apa pun, seperti memberi secangkir air sejuk kepada sesama akan dihargai oleh Tuhan. Karena Tuhan memandang ketulusan hati dalam melayani atau memberikan kasih kepada sesama.”

Karena itu, umat diajak untuk selalu membuka hati berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Menurutnya, bantuan yang mungkin tampak sederhana justru dapat menjadi harapan besar bagi orang lain.

“Ingat bahwa bantuan yang kita lakukan kepada sesama meskipun itu kecil tetapi sangat berharga dan bermanfaat bagi yang membutuhkan,” pesannya.

Menutup renungannya, RD. Domincs mengajak seluruh umat untuk memohon rahmat Tuhan agar mampu menghidupi kasih dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada Allah maupun kepada sesama. “Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu mengasihi-Mu dan sesama kami.”

Pesan yang disampaikan dari Central Seminary UST Manila itu menjadi pengingat bahwa ukuran iman bukan semata-mata terlihat dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam kesediaan menghadirkan kasih melalui tindakan nyata.

Sebab, kasih yang berakar pada Tuhan akan selalu melahirkan ketulusan, pengorbanan, dan harapan bagi sesama.(jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *