Meraih Ambisi Tanpa Menyingkirkan: Refleksi Kasih dan Pelayanan Tulus di Tengah Dunia
Lauran | https://lensapublik.my.id – Senin, 28 September 2026. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sarat kompetisi, hasrat untuk menjadi yang terbaik kerap kali mewarnai langkah setiap insan. Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Pastor Pius Heljanan, MSC, Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, mengingatkan kembali kisah klasik tentang kecenderungan manusiawi tersebut lewat penggalan Kitab Suci: “Timbullah pertengkaran di antara para murid tentang siapa yang terbesar di antara mereka.”
Ia menuturkan bahwa keinginan untuk sukses, memiliki gelar akademik yang tinggi, serta meraih pangkat atau jabatan adalah hal yang sangat wajar. Motif di baliknya pun beragam, mulai dari kerinduan untuk dihargai, dihormati, dikagumi, hingga mencapai kemakmuran finansial. Bahkan, mereka yang berada di lingkaran terdekat Sang Guru pun tak luput dari godaan pola hidup duniawi yang mengejar status dan pengakuan.
Namun, Pastor Pius menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan kerinduan untuk menjadi hebat, sukses, atau terkenal. Ambisi adalah bagian dari daya dorong manusia untuk bertumbuh. Hal yang perlu ditata kembali adalah arah dan kriteria dari ambisi itu sendiri, agar tidak melenceng dari nilai-nilai kebaikan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Yesus menuntun umat untuk mengejar tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu hidup kekal. Arena kehidupan sejatinya bukanlah tempat untuk saling menjatuhkan, melainkan ajang “perlombaan berbuat baik dan melayani dengan tulus.” Peringatan penting pun disampaikannya agar tidak ada pihak yang tega menyingkirkan sesama atau mengorbankan orang lain demi memuluskan ambisi pribadi.
Menutup refleksinya, Pastor Pius mengingatkan kembali hakekat sejati dari sebuah keberhasilan. Ukuran kebesaran seorang manusia di hadapan Tuhan sama sekali tidak diukur dari seberapa tinggi takhta yang diduduki, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghidupi nilai-nilai luhur. “Ukuran kebesaran manusia di hadapan Tuhan: mengasihi, kerendahan hati, kejujuran, dan melayani tanpa pamrih,” tegasnya. Kebesaran sejati selalu berakar pada ketulusan untuk memberi arti bagi sesama.(joko)












