Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC: Iman Harus Berbuah dalam Kebaikan

lensa publik.my.id | Saumlaki, Senin, 10 Agustus 2026 – Menjadi pengikut Kristus bukan sekadar percaya dan menerima, tetapi menghadirkan kebaikan bagi sesama. Kehidupan iman dipanggil untuk menghasilkan buah melalui perkataan, perilaku, pengorbanan, dan pelayanan.

Dalam refleksinya, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, mengangkat gambaran biji gandum dari Yohanes 12:24-26 sebagai cermin kehidupan seorang pengikut Yesus. “Jikalau biji gandum mati, akan menghasilkan banyak buah.”

Jalan Cinta yang Menghidupkan
Yesus menganalogikan diri-Nya sebagai biji gandum yang mati dan menghasilkan buah keselamatan. Kematian Kristus bukan kekalahan, melainkan pengorbanan yang menjadi jalan cinta untuk menghidupkan manusia. “Kematian-Pengorbanan Yesus merupakan jln cinta yg menghidupkan.”

Teladan Kristus kemudian menjadi panggilan bagi setiap orang beriman. Kehadiran seorang pengikut Yesus seharusnya membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.
“Sebagai pengikut Yesus, kita pun hadir di tengah dunia demi kebaikan sesama.”

Iman yang Menghasilkan Buah
Buah iman tidak selalu hadir melalui perkara besar. Ia dapat terlihat dari kata-kata yang membangun, perilaku yang baik, serta tindakan kasih yang nyata. “Hadir kita berbuah kebaikan melalui: kata², prilaku dan tindakan kasih.”

Namun, kehidupan yang berbuah menuntut pengorbanan. Mengikuti jalan Yesus berarti bersedia menyangkal diri, rela berkorban, menghadapi penderitaan, dan melayani dengan ketulusan. “Hidup kita berbuah bila mengikuti jln Yesus: rela berkorban/menderita, menyangkal diri dan ikhlas melayani.”

Tanggalkan Ego dan Kesombongan
Kehidupan yang menghasilkan buah kebaikan juga menuntut keberanian untuk melepaskan ego dan kesombongan.
“Bila mau berbuah kebaikan: tanggalkan ego, kesombongan, kebiasaan mencari nyaman diri sendiri.”

Pesan ini relevan dalam kehidupan keluarga, gereja, maupun masyarakat. Sebab iman tidak cukup hanya diucapkan. Iman harus terlihat dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Menjadi pengikut Yesus berarti bersedia menjadi seperti biji gandum: tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi rela memberikan diri agar kebaikan dapat bertumbuh bagi orang lain. “Dirimu pengikut Yesus yg berbuah kebaikan.”

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak setiap orang bertanya: apakah kehadiran kita telah menjadi berkat? Apakah perkataan kita menguatkan? Apakah tindakan kita mencerminkan kasih Kristus? Dan apakah kita masih terlalu kuat mempertahankan ego?

Sebagaimana biji gandum harus mati untuk menghasilkan banyak buah, demikian pula ego manusia perlu ditanggalkan agar kasih, pelayanan, dan kebaikan dapat hidup.
Yohanes 12:24-26. Editor: Johanis Kopong
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *