Lauran, Kepulauan Tanimbar, Maluku, Minggu, 9 Agustus 2026 | lensa publik.my.id – Ada saat ketika manusia merasa seolah-olah hidupnya berada di tengah laut yang tidak bersahabat. Gelombang datang silih berganti, angin bertiup keras, sementara arah perjalanan terasa semakin tidak pasti.
Dalam keadaan seperti itu, rasa takut sering kali mengambil alih pandangan. Apa yang sebelumnya diyakini dengan teguh dapat tiba-tiba terasa jauh.
Persoalan kehidupan membuat manusia lebih sibuk memandang badai daripada memandang Dia yang berkuasa atas badai.
Melalui kisah Yesus berjalan di atas air dalam Injil Matius 14:22-33, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mengajak umat melihat kembali satu kebenaran iman: di tengah ketakutan sekalipun, Yesus tidak pernah meninggalkan mereka yang percaya kepada-Nya.
Para murid bukan tidak mengenal Yesus. Mereka telah menyaksikan karya dan kuasa-Nya. Namun ketika berhadapan dengan angin sakal dan gelombang yang mengancam, ketakutan membuat mereka gagal mengenali kehadiran Tuhan ketika Ia datang mendekati mereka dengan berjalan di atas air.
Dalam refleksinya, Pastor Pius menegaskan, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut.” Kalimat tersebut bukan sekadar sapaan untuk menenangkan para murid. Ia merupakan undangan untuk kembali menyadari bahwa kehadiran Tuhan tidak selalu datang dalam keadaan yang tenang. Justru di tengah kekacauan, ketakutan, dan situasi yang berada di luar kendali manusia, Tuhan dapat hadir dengan cara yang tidak selalu segera dikenali.
Pengalaman para murid menjadi cermin bagi kehidupan manusia dewasa ini. Seseorang dapat tekun berdoa, menghadiri ibadah atau Misa, mengikuti novena, dan menjalani berbagai praktik keagamaan, tetapi ketika persoalan besar datang, iman dapat dengan mudah tergeser oleh kecemasan.
Doa masih dilakukan, tetapi hati mulai lebih percaya kepada kekuatan sendiri. Tuhan masih disebut, tetapi perhatian perlahan berpindah kepada besarnya persoalan. Di titik itulah badai kehidupan dapat terasa lebih besar daripada kasih Tuhan.
Kisah Petrus memberikan gambaran yang sangat manusiawi tentang pergulatan iman. Ia berani melangkah keluar dari perahu setelah memastikan bahwa sosok yang berdiri di atas air itu benar-benar Yesus.
Selama pandangannya tertuju kepada Yesus, ia mampu melakukan sesuatu yang secara manusiawi mustahil. Namun ketika perhatiannya beralih kepada kuatnya angin dan besarnya gelombang, ketakutan kembali menguasai dirinya. Petrus mulai tenggelam.
Pastor Pius mengajak umat melihat pengalaman tersebut bukan sebagai kisah kegagalan seorang murid semata, melainkan sebagai cermin perjalanan iman setiap orang. “Petrus hampir tenggelam karna tdk fokus memandang Yesus.
Perhatian beralih pada gelombang yg dihadapi.” Dalam kehidupan nyata, “gelombang” itu dapat hadir dalam berbagai bentuk: persoalan keluarga, ekonomi, pekerjaan, relasi, pelayanan, maupun pergumulan batin yang tidak selalu diketahui orang lain.
Setiap orang memiliki badai masing-masing. Persoalannya bukan apakah badai akan datang, melainkan ke mana manusia mengarahkan pandangannya ketika badai itu datang.
Iman tidak berarti hidup tanpa masalah. Iman berarti tetap memiliki arah ketika masalah datang. Beriman bukan berarti tidak pernah takut, tetapi memiliki keberanian untuk tetap menggenggam tangan Tuhan ketika rasa takut muncul. Dalam keadaan demikian, manusia tidak dipanggil untuk menyangkal kenyataan, melainkan untuk menempatkan kenyataan tersebut dalam terang iman.
Di bagian paling penting dari kisah tersebut, Petrus tidak dibiarkan tenggelam. Ketika ia berseru meminta pertolongan, Yesus mengulurkan tangan dan menyelamatkannya. Di situlah kabar pengharapan dalam refleksi Pastor Pius menemukan kekuatannya.
“Yesus punya otoritas utk meredahkan gelombang dlm hidupmu. Dia akan hadir mengulurkan tanganNya dan mengakatmu keluar dari ketakutan.”
Pesan tersebut membawa umat kepada sebuah kesadaran sederhana namun mendalam: Tuhan tidak selalu menghilangkan badai sebelum manusia mengalaminya, tetapi Tuhan hadir di tengah badai dan memberikan kekuatan agar manusia tidak kehilangan iman.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, manusia tidak dipanggil untuk menyerah kepada ketakutan. Ia dipanggil untuk kembali memandang Yesus. Sebab ketika mata iman tetap tertuju kepada-Nya, gelombang tidak lagi menjadi pusat kehidupan. “Setialah memandang Yesus dgn iman yg teguh.”
Pesan penutup Pastor Pius itu sederhana, tetapi memiliki daya spiritual yang kuat. Di tengah dunia yang sering membuat manusia kehilangan ketenangan, umat diajak untuk tidak membiarkan besarnya persoalan membuat mereka lupa kepada besarnya kasih Tuhan.
Sebab pada saat manusia merasa tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan, tangan Kristus tetap terbuka untuk menolong dan mengangkatnya. (Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran)












