http://lensapublik.com | Olilit Barat, Sabtu, 27 Juni 2026 – Penghujung bulan Juni menjadi momentum penuh makna bagi umat Katolik. Di balik bergantinya lembar kalender, tersimpan perjalanan iman yang mengajak setiap pribadi kembali menimba kekuatan dari sumber kasih yang tak pernah kering, yakni Hati Kudus Yesus.
Bulan Juni telah lama dimaknai sebagai Bulan Hati Kudus Yesus, sebuah masa doa, syukur, penyerahan diri, dan pembaruan komitmen hidup. Di sepanjang bulan ini, keluarga-keluarga Katolik mempersembahkan doa-doa mereka, memohon rahmat bagi perjalanan hidup, sekaligus mengucap syukur atas berbagai anugerah yang diterima.
Momentum tersebut juga menjadi ruang batin bagi mereka yang merayakan ulang tahun kelahiran, ulang tahun perkawinan, maupun berbagai peristiwa syukur lainnya.
Namun, di balik seluruh ungkapan sukacita itu, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang terus menggema dalam kehidupan iman: Apa makna Hati Kudus Yesus bagi kehidupan umat pada masa kini?
Hati Kudus Yesus, Bukan Sekadar Simbol
Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, mengajak umat memandang devosi kepada Hati Kudus Yesus bukan hanya sebagai simbol religius, melainkan sebagai pengalaman nyata akan kasih Allah yang hidup di tengah umat.
Dalam refleksi iman akhir pekannya, RD Ponsianus Ongirwalu menegaskan bahwa Hati Kudus Yesus merupakan pusat spiritualitas yang menggerakkan kehidupan umat untuk terus bertumbuh dalam kasih.
“Hati Kudus Yesus bukanlah sebuah simbol yang jauh dan kaku. Ia adalah detak jantung cinta yang konkret, yang sungguh-sungguh mencintai umat-Nya tanpa syarat,” ujar RD Ponsianus Ongirwalu.
Menurutnya, sebagai imam yang melayani di Paroki Hati Kudus Yesus, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pelindung paroki bukan hanya menjadi nama yang melekat pada gereja, tetapi menjadi sumber spiritualitas yang menghidupi seluruh pelayanan.
“Sebagai seorang imam yang melayani di Paroki Hati Kudus Yesus, Olilit Barat, pelindung paroki ini bukan sekadar nama bangunan, melainkan sumber spiritualitas hidup kami. Hati yang terluka namun tetap terbuka mengalirkan belas kasih, menjadi tempat berteduh bagi setiap jiwa yang letih lesu,” ungkapnya.
Menjadi Muara Setiap Pergumulan Hidup
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, kehidupan umat selalu diwarnai berbagai dinamika. Ada yang datang membawa sukacita atas kelahiran, pertambahan usia, maupun perayaan sakramen perkawinan. Tidak sedikit pula yang datang dengan beban kehilangan, pergumulan hidup, serta berbagai tantangan yang harus dihadapi. Namun dalam setiap situasi itu, Hati Kudus Yesus tetap menjadi tempat kembali.
“Ketika umat datang membawa syukur atas bertambahnya usia, merayakan keteguhan sakramen pernikahan, atau bahkan saat membawa beban kedukaan dan tantangan hidup, Hati Kudus Yesus selalu menjadi muara,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kehidupan menggereja sejatinya merupakan proses belajar tanpa henti untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Di paroki ini, kita belajar bahwa mencintai seperti Yesus berarti siap membuka diri, merangkul sesama, dan menjaga harmoni serta kedamaian di tengah komunitas. Segala ungkapan syukur kita di akhir bulan Juni ini adalah bukti bahwa kita hidup dari kelimpahan cinta-Nya,” katanya.
Menutup Juni dengan Syukur dan Penyerahan Diri
Memasuki akhir pekan terakhir di Bulan Hati Kudus Yesus, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak seluruh umat menjadikan penghujung Juni sebagai saat untuk berhenti sejenak, mengenang perjalanan hidup, serta menyerahkan seluruh pengalaman kepada Tuhan.
Baik sukacita maupun duka, keberhasilan maupun pergumulan, semuanya layak dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan.
Ia juga mengajak keluarga-keluarga yang merayakan pertambahan usia, ulang tahun perkawinan, maupun anugerah kehidupan lainnya agar terus memperbarui komitmen kasih dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat.
Secara khusus, doa dipanjatkan bagi seluruh umat Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat agar semangat belas kasih Kristus senantiasa mewarnai setiap pelayanan, persaudaraan, serta langkah hidup bersama.
Refleksi itu ditutup dengan doa sederhana yang menjadi harapan seluruh umat: “Hati Kudus Yesus, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu. Amin.”
Melalui permenungan di penghujung Bulan Hati Kudus Yesus ini, umat diajak menyadari bahwa kasih Allah bukan sekadar dikenang dalam liturgi, tetapi diwujudkan dalam sikap hidup yang terbuka, penuh belas kasih, serta menghadirkan damai bagi sesama.
Selamat memasuki akhir pekan. Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan umat beriman.(jk)














