http://lensapublik.my,id | Lauran, Kepulauan Tanimbar, Sabtu, 27 Juni 2026 – Di tengah dunia yang masih kerap memandang manusia dari status sosial, jabatan, latar belakang, bahkan perbedaan suku dan budaya, pesan Injil kembali menghadirkan sebuah ajakan yang sederhana namun mendalam: menghadirkan belas kasih tanpa memandang siapa yang ditolong.
Pesan itu disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC dalam renungan Sabda Tuhan di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu (27/6/2026).
Berpijak pada Injil Matius 8:5-17, Pastor Pius mengajak umat untuk merenungkan bagaimana Yesus menunjukkan wajah Allah yang penuh kasih melalui berbagai mukjizat penyembuhan.
Dalam kisah tersebut, Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi, seorang yang berasal dari kalangan non-Yahudi, serta menyembuhkan ibu mertua Petrus yang sedang menderita sakit.
Kedua peristiwa itu memperlihatkan bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh status, asal-usul maupun kedudukan seseorang.
Mengawali renungannya, Pastor Pius mengutip sabda Yesus yang menjadi inti pewartaan Injil hari itu. “Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama Abraham, Ishak dan Yakub.” (Mat. 8:11)
Menurut Pastor Pius, sabda tersebut merupakan tanda bahwa keselamatan Allah diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Tidak ada batas geografis, etnis, ataupun strata sosial yang mampu membatasi kasih Tuhan kepada setiap orang yang datang dengan iman.
“Yesus memperlihatkan cara Allah menunjukkan belas kasih kepada manusia melalui mukjizat kesembuhan yang dialami hamba perwira Romawi, ibu mertua Petrus dan banyak orang lainnya. Yesus menolong mereka tanpa melihat status sosial, jabatan maupun latar belakang,” ujar Pastor Pius.
Ia menjelaskan bahwa yang dicari Yesus bukanlah kekayaan, kekuasaan ataupun kehormatan seseorang. Sebaliknya, Yesus melihat kedalaman hati manusia yang dipenuhi iman, kerendahan hati serta kejujuran untuk mengakui keterbatasan diri di hadapan Tuhan.
Sikap perwira Romawi menjadi contoh nyata bagaimana seseorang dapat memiliki iman yang besar meskipun berasal dari luar komunitas bangsa pilihan. Dengan rendah hati ia mengakui dirinya tidak layak menerima Yesus di rumahnya, tetapi percaya bahwa sepatah kata dari Yesus cukup untuk menyembuhkan hambanya.
Bagi Pastor Pius, kerendahan hati seperti itulah yang membuka jalan bagi karya Allah dalam kehidupan manusia. “Yesus membutuhkan dari mereka iman, kerendahan hati dan kejujuran mengakui ketidaklayakan,” katanya.
Lebih jauh, Pastor Pius mengingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bersedia menghadirkan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Belas kasih bukan sekadar ungkapan simpati ataupun kata-kata penghiburan, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa harapan bagi sesama.
Menurutnya, banyak orang mudah berbicara mengenai kasih, tetapi tidak sedikit yang enggan terlibat ketika melihat penderitaan orang lain. Padahal, kasih Kristiani selalu diwujudkan dalam keberanian untuk hadir, mendengar, membantu, dan berbagi beban dengan mereka yang membutuhkan.
“Yesus mengajarkan bagaimana caranya menyentuh hidup sesama dengan hati yang tulus. Jangan hanya berbicara, tetapi harus terlibat menolong sesama,” tegas Pastor Pius.
Ia kemudian mengajak umat belajar dari kepedulian perwira Romawi terhadap hambanya. Meskipun memiliki kedudukan dan kewenangan sebagai seorang perwira, ia tidak membiarkan hambanya menderita sendirian. Sebaliknya, ia datang kepada Yesus memohon pertolongan dengan penuh iman.
Bagi Pastor Pius, kepedulian seperti inilah yang patut menjadi teladan bagi setiap orang beriman, yakni memiliki hati yang peka terhadap kebutuhan sesama tanpa memandang siapa mereka.
“Belajar dari perwira Romawi, kita harus saling peduli terhadap kebutuhan sesama. Dengan doa memohon campur tangan Tuhan, dan dengan hati menyentuh kebutuhan sesama,” ujarnya.
Renungan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar umat Kristiani tidak membangun tembok pemisah dalam kehidupan sosial. Belas kasih yang diajarkan Yesus melampaui segala bentuk perbedaan dan mengajak setiap orang untuk menjadi saluran kasih Allah bagi siapa saja yang membutuhkan.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, mulai dari kesenjangan sosial, konflik, hingga sikap individualistis yang semakin menguat, pesan Injil hari ini mengingatkan bahwa kekuatan iman sejati bukan hanya tampak dalam doa, tetapi juga dalam keberanian mengulurkan tangan, menghadirkan harapan, dan memperlakukan setiap orang dengan kasih yang sama.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana diajarkan Yesus, belas kasih tidak pernah memilih kepada siapa kasih itu diberikan. Belas kasih justru menemukan maknanya ketika mampu menjangkau setiap orang dengan hati yang tulus, tanpa memandang perbedaan apa pun.(rls:jk)














