Sungailiat, Lensapublik.my.id –
Ratusan jamaah memadati Masjid Darusalam, Kelurahan Karya Makmur, Sungailiat dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Ahad (24/8). Kegiatan berlangsung khidmat dengan mengusung dua rangkaian utama, yakni cukuran massal untuk anak-anak dan ceramah agama.
Ceramah tahun ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Kurnia, S.Ag., M.Ag. dengan tema “Meneladani Rasulullah Mewujudkan Insan Berakhlak Mulia”. Acara ini juga dihadiri pengurus DKM, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.
Ketua DKM Masjid Darusalam menyampaikan bahwa peringatan Maulid menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini kita ingin anak-anak tumbuh dengan nilai sunnah dan jamaah semakin erat silaturahminya,” ujarnya.
Acara dibuka dengan kegiatan cukuran massal. Puluhan orang tua mengantarkan buah hatinya untuk dicukur di halaman masjid. Kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas kelahiran sekaligus mengikuti sunnah aqiqah yang diajarkan Rasulullah SAW.
Dari sudut pandang keilmuan, Dr. Diana Anggraeni, M.Hum., melihat kegiatan ini sebagai bentuk komunikasi yang kuat.
“Secara linguistik, cukuran massal ini adalah tindak tutur simbolik. Tanpa banyak ceramah, kegiatan ini sudah menyampaikan pesan: kami bersyukur, kami cinta sunnah, dan kami ingin mendidik anak berakhlak mulia. Ini bahasa non-verbal yang membumi,” ungkapnya.
Memasuki acara inti, Ustadz Muhammad Kurnia mengajak jamaah untuk meneladani akhlak Nabi, khususnya dalam cara berkomunikasi. Dalam tausiyahnya beliau menekankan bahwa lisan adalah cerminan iman.

Menanggapi materi tersebut, Dr. Diana mengaitkannya dengan kajian linguistik.
“Dari kacamata linguistik, Rasulullah SAW adalah figur yang sempurna dalam pragmatik. Beliau mampu memilih kata sesuai konteks, lawan bicara, dan tujuan agar tidak menyakiti,” jelasnya.
Ia merinci ada 3 pilar bahasa Nabi yang relevan untuk dihidupkan hari ini:
Pertama, Shiddiq. Bahasa yang jujur. Tidak ada dusta, hoax, dan ghibah.
Kedua, Fashohah. Bahasa yang efektif dan mudah dipahami semua kalangan.
Ketiga, Rahmah. Bahasa yang lembut dan menyejukkan.
“Di era media sosial, ujian akhlak kita justru di jempol. Satu komentar bisa melukai banyak orang. Maka meneladani Rasulullah hari ini berarti menjadi pengguna bahasa yang bertanggung jawab. Status, chat, dan komentar kita harus mencerminkan akhlak mulia,” tegas Dr. Diana.
Acara ditutup dengan pembacaan shalawat, doa bersama, dan ramah tamah. Jamaah berharap nilai-nilai Maulid tidak hanya berhenti di masjid, tetapi diamalkan dalam keluarga, masyarakat, dan dunia digital.
Dengan memadukan aksi nyata seperti cukuran massal dan kajian yang kontekstual, Masjid Darusalam Karya Makmur berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga santun dalam berbahasa.
Penulis: Dr. Diana Anggraeni, M.Hum.














