Membersihkan Hati, Memurnikan Iman: Refleksi tentang Pencitraan Diri dan Kemunafikan

https://lensa publik.my.id | Saumlaki, Selasa, 25 Agustus 2026.
Oleh: Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Kehidupan beriman tidak cukup hanya terlihat baik dari luar. Ketulusan hati dan kemurnian niat menjadi dasar penting agar setiap perbuatan baik benar-benar mencerminkan iman.

Yesus menegur keras kaum Farisi dan ahli Taurat yang lebih memperhatikan penampilan lahiriah daripada kebersihan hati.

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”

Dalam kehidupan bersama, seseorang dapat terlihat rajin mengikuti ibadat atau misa, berderma, serta membantu orang lain.

Namun, kebaikan tersebut dapat berubah menjadi pencitraan apabila dilakukan untuk memperoleh pujian, penghormatan, atau popularitas.

“Dalam hidup bersama, ada orang yang beriman secara formalitas: rajin ke gereja, ikut ibadat atau misa, rajin berderma, membantu orang dan lain-lain; sejatinya yang ditampakkan baik, namun terkadang itu bagian dari pencitraan diri agar dipuji, dihormati, dan mencari popularitas.”

Menurut Pastor Pius, Yesus menghendaki kehidupan beriman yang benar dengan mengedepankan belas kasih, keadilan, kemurahan hati, dan kejujuran dalam setiap perbuatan.

“Yesus menghendaki beriman secara benar: mengedepankan belas kasih, keadilan, kemurahan hati dan kejujuran dalam berbuat baik.”

Karena itu, pembaruan iman harus dimulai dari hati. Ketika niat pencitraan dibersihkan, tindakan yang terlihat dari luar akan lahir secara lebih murni dan tulus.

“Solusi Yesus: bersihkan dahulu hatimu dari niat pencitraan diri, jika hati sudah bersih, tindakan lahiriah akan murni dengan sendirinya.”

Refleksi berdasarkan Injil Matius 23:23–26 ini menjadi ajakan bagi setiap orang beriman untuk tidak hanya memperhatikan apa yang terlihat oleh manusia, tetapi juga memeriksa ketulusan hati di hadapan Tuhan. (Editor: johanis kopong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *