Introspeksi Diri: Jangan Sibuk Melihat Dosa Sesama

 

​​Belajar Menjadi Cermin Kasih: Renungan Ilahi Pastor Pius Heljanan, MSC di Paroki Lauran

Desa Lauran | lensapublik.my.id – Jumat, 11 September 2026. Di tengah riuk pikuk kehidupan bermasyarakat yang kerap kali dipenuhi penilaian pribadi terhadap sesama, pesan moral yang mendalam kembali digaungkan untuk menyadarkan pentingnya mawas diri. Pentingnya introspeksi diri ini menjadi perenungan utama agar manusia tidak terjebak dalam sikap saling menghakimi.

​Pesan spiritual tersebut disampaikan oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Beliau menekankan pentingnya merefleksikan ajaran kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Bahaya Menghakimi Sesama

​Dalam perenungannya, Pastor Pius Heljanan, MSC menyoroti kebiasaan manusia yang sering kali lebih mudah melihat kekurangan serta kesalahan orang lain dibandingkan mengevaluasi diri sendiri. Beliau mengingatkan ajaran Kitab Suci yang mempertanyakan kepantasan seseorang dalam membimbing sesamanya apabila dirinya sendiri masih diliputi kegelapan moral.

​”Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?” ujar Pastor Pius Heljanan, MSC mengingatkan.

​Beliau menjelaskan bahwa Kristus mengoreksi cara manusia mengasihi sesama. Sering kali manusia lebih disibukkan oleh keinginan untuk mengoreksi dan mengadili mereka yang bersalah atau jatuh ke dalam dosa, ketimbang merangkul dan memahami.

​”Yang kita buat, suka mengoreksi, dan mengadili mereka yang bersalah atau jatuh dalam dosa. Kita sibuk mencari kesalahan dan kelemahan sesama. Ingat, jangan jeli melihat selumbar dalam mata saudaramu, tetapi sadari ada balok di matamu sendiri,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.

Membersihkan Balok di Mata Sendiri

​Lebih lanjut, Pastor Pius Heljanan, MSC menguraikan bahwa yang dimaksud dengan “balok di mata sendiri” adalah aneka sifat buruk yang kerap mengendap di dalam hati manusia tanpa disadari. Sikap-sikap negatif tersebut mencakup rasa benci, iri hati, dendam, kesombongan, mudah menghakimi, hingga ketidakmampuan untuk mengampuni sesama dalam jangka waktu yang lama.

​Beliau menekankan pentingnya proses belajar dan kerendahan hati sebelum seseorang berusaha memberikan petunjuk atau nasihat kepada orang lain.

​”Yesus mengajarkan, sebelum jadi guru, jadilah murid yang rendah hati, duduk mendengarkan Tuhan, belajar tentang cara mengasihi yang pantas,” tegasnya.

Menjadi Cermin Kehidupan yang Mengasihi

​Mengakhiri renungannya, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak seluruh umat untuk menjauhi sikap berpura-pura atau kemunafikan. Sebaliknya, umat diimbau untuk fokus memperbaiki kualitas diri dan menyebarkan kebaikan nyata di tengah masyarakat.

​”Yesus menghendaki kita terhindar dari kemunafikan. Maka jangan jago lihat dosa sesama, tetapi mulailah jadi cermin yang memantulkan kasih dan kebaikan pada sesama,” pungkas Pastor Pius Heljanan, MSC merujuk pada ajaran Injil Lukas Bab 6 Ayat 39 sampai 42.

​Editor: johanis kopong

(Sumber: Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *