Penyegaran Iman dari Lauran: Menemukan Kebahagiaan Sejati yang Tak Tergerus Zaman
LAURAN | https://lensa publik.my.id – Rabu, 9 September 2026.
Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam pemburuan kenyamanan materi, jabatan, serta pujian. Namun, kenyamanan fisik tersebut acap kali membuat manusia terbuai hingga perlahan melupakan sang Pencipta. Mengingatkan akan bahaya kenyamanan yang bersifat sementara ini, sebuah refleksi iman yang mendalam disampaikan untuk menuntun umat kembali pada makna hidup yang hakiki.
Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, membagikan permenungan spiritual mengenai hakikat kebahagiaan sejati menurut ajaran Kristus.
Kebahagiaan yang Tidak Terukur Materi
Dalam renungannya, Pastor Pius menekankan bahwa tolok ukur kebahagiaan seorang beriman tidak terletak pada kelimpahan materi maupun status sosial, melainkan pada kelekatan hubungan manusia dengan Penciptanya.
”Berbahagialah orang yang miskin, celakalah orang yang kaya. Saudaraku, Yesus mengajarkan pada para murid untuk mencari kebahagiaan sejati. Suatu kebahagiaan yang tidak diukur berdasarkan kekayaan, makanan atau minuman, kekuasaan, jabatan, pujian, penghormatan, dan lain-lain. Yesus memberi peringatan celaka, bagi mereka yang dalam hidup mengandalkan hal-hal duniawi ini,” ujar Pastor Pius Heljanan, MSC.
Beliau menjelaskan bahwa ujian iman sejatinya hadir ketika seseorang tetap teguh berpegang pada kebenaran meskipun harus berhadapan dengan berbagai penolakan maupun tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
”Bagi Yesus, letak kebahagiaan sejati: kedekatan mutlak dengan Allah; setia mengimani-Nya walaupun dibenci, dikucilkan, difitnah dan ditolak. Orang yang setia pada Yesus tidak akan ditinggalkan Allah,” tambahnya.
Menghindari Sikap Mengandalkan Hal Duniawi
Lebih lanjut, Pastor Pius meluruskan anggapan bahwa ajaran ini melarang seseorang untuk memiliki pencapaian di dunia. Fokus utamanya terletak pada bagaimana manusia menyikapi segala bentuk kenikmatan materi agar tidak dijadikan sebagai penyembahan baru yang mengabaikan Tuhan.
”Ingat, Yesus tidak mengajarkan untuk membenci orang kaya dan kekayaan, kekuasaan dan jabatan. Yesus mengingatkan kita agar menghindari sikap hati yang mengandalkan hal-hal duniawi ini. Semua itu sementara dan semu; akan habis dan hilang. Jangan lupa untuk bersandar pada Yesus penjamin kebahagiaan sejati dan kekal,” tegasnya sembari mengutip permenungan dari Injil Lukas 6:20-26.
Melalui pesan spiritual ini, umat diimbau untuk senantiasa mawas diri, menjaga keheningan hati, serta menjadikan ajaran Kasih sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Editor: johanis kopong
(Sumber: Refleksi Spiritual Pastor Pius Heljanan, MSC)














