Memikul Salib Cinta: Pesan Mendalam Pastor Pius Heljanan dari Tanimbar

 

Lauran, Lensa Publik – Minggu, 30 Agustus 2026. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap menawarkan kenikmatan sesaat, sebuah pesan mendalam menggema dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali hakikat sejati dalam mengikut Kristus, sebuah jalan perjuangan yang menuntut kesetiaan, ketulusan, dan pengorbanan tanpa syarat.

​Dalam permenungannya yang berakar pada Injil Matius (16:21-27), Pastor Pius menekankan bahwa perjalanan iman bukanlah jalan pintas menuju kenyamanan, melainkan sebuah proses pemurnian diri yang berlandaskan kasih ilahi. Beliau menegaskan kembali panggilan utama setiap murid Kristus untuk siap menanggung penderitaan demi iman yang sejati.

​”Memikul salib dan mengikuti Aku. Yesus menyatakan pada para murid tentang jalan yang dilalui-Nya: menderita, dibunuh dan bangkit. Itu jalan cinta yang menyelamatkan manusia. Setiap pengikut-Nya harus melalui jalan yang ditunjukkan-Nya dengan: 1. Menyangkal diri: melepaskan hak atas kendali diri, membiarkan Tuhan yang mengatur. 2. Memikul salib: setia melakukan kehendak-Nya, walaupun menderita, ditolak, difitnah, dll. 3. Mengikuti Aku: jalan Tuhan, mencintai sampai terluka, berkorban dan peroleh hidup kekal,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Lebih lanjut, Pastor Pius memperingatkan umat agar tidak mudah tergiur oleh pesona serta pernak-pernik keduniawian yang sering kali mengikis bobot spiritualitas dan iman kepercayaan. Mengikuti Kristus tanpa adanya kesediaan untuk berkorban hanyalah sebuah ilusi yang menyesatkan.

​”Ingat, mengikuti Yesus tanpa cinta tulus, salib dan pengorbanan, itu adalah iblis yang menyamar. Hati-hatilah, jangan karena mau enak sesaat, menukar Yesus dengan hidup menurut tawaran dunia,” ingat beliau menutup renungannya.

​Melalui peneguhan ini, umat diajak untuk terus melangkah mantap di atas jalan cinta Kristus, berani menyangkal diri, dan menempatkan Tuhan sebagai pemegang kendali utama dalam setiap helai kehidupan.

(Editor: johanis kopong)

(Sumber: Renungan Pastor Pius Heljanan, MSC / Lensa Publik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *