Menanti Dalam Kesetiaan: Menjaga Integritas dan Kebaikan di Tengah Ketidakpastian Zaman

 

https://lensapublik.my.id | Saumlaki, Kamis, 27 Agustus 2026.

​Oleh: Pastor Pius Heljanan, MSC (Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)

​Di tengah dinamika kehidupan dunia yang bergerak begitu cepat, manusia sering kali terjebak dalam rasa penasaran akan hal-hal yang belum pasti. Keinginan untuk menerka masa depan tak jarang menguras energi dan mengalihkan perhatian dari esensi hidup yang sebenarnya. Menghadapi hal tersebut, umat diajak untuk kembali merenungkan makna hakiki dari kesetiaan dan kesiapan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

​Dalam permenungan iman yang tertuang pada Injil Matius 24:42-51, fokus kehidupan beriman sejatinya tidak terletak pada hitung-hitungan waktu, melainkan pada bagaimana setiap momen diisi dengan kebaikan. Kesetiaan sejati tercermin dari kesiapan batin yang diwujudkan melalui tindakan nyata kepada sesama.

​”Berjaga-jaga dan setia sampai Tuhan datang. Saudaraku, Yesus menghendaki kita setiap saat berjaga sambil berbuat baik menantikan kedatangan-Nya. Ingat, Yesus tidak meminta kita dalam hari-hari hidup menghitung waktu kedatangan-Nya. Kita dipanggil untuk hidup benar sambil berbuat baik,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Melalui narasi Kitab Suci tersebut, ditampilkan gambaran dua figur hamba yang menjadi cermin bagi sikap hidup manusia saat ini:

Hamba yang Baik dan Bijaksana: Sosok yang konsisten menjaga integritas. Ia tidak membutuhkan pengakuan atau pujian dari manusia lain untuk bertindak benar. Kehadirannya senantiasa menjadi jawaban atas kebutuhan sesama, melayani dengan tulus, dan tetap berjaga-jaga melalui karya kebaikan yang nyata.

Hamba yang Jahat: Sosok yang lalai dan menganggap waktu masih panjang. Ia cenderung menunda kesempatan untuk melakukan kebaikan, bersikap sewenang-wenang terhadap sesama, serta terjebak dalam pembuktian kekuasaan dan kesenangan duniawi yang berlebihan.

​Renungan ini membawa pesan mendalam agar setiap individu menjauhkan diri dari sikap kemunafikan. Beriman secara benar menuntut keselarasan antara keyakinan batin dan perbuatan sehari-hari. Menjaga ketulusan hati dan konsistensi berbuat baik merupakan langkah utama agar terhindar dari penyesalan di kemudian hari.

​”Berjagalah secara benar sebagai orang beriman, jauhkan diri dari kemunafikan agar terhindar dari tempat ratapan dan kertak gigi,” pungkas Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Setiap detik yang mengalir adalah kesempatan berharga untuk membenahi diri. Dengan tetap rendah hati, bijaksana, dan terus melayani sesama, penantian akan kedatangan-Nya menjadi sebuah perjalanan hidup yang dipenuhi kedamaian dan keharmonisan.

​(Editor: johanis kopong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *