Tuhan Tidak Tertipu dengan Polesan Lahiriah Diri

https://lensa publik.my.id | Saumlaki, Rabu, 26 Agustus 2026 – Manusia sering kali lebih memperhatikan apa yang tampak di luar daripada keadaan hatinya sendiri. Penampilan dapat dibuat baik, saleh, dan mengagumkan, tetapi di hadapan Tuhan tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan.

Dalam Injil Matius 23:27-32, Yesus mengecam kemunafikan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. “Kalian seperti kuburan yang dilabur putih.” Teguran itu menggambarkan kehidupan yang tampak bersih dari luar, tetapi menyimpan kebusukan di dalam.

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi setiap orang beriman. Tuhan tidak menilai manusia hanya berdasarkan penampilan atau kesalehan yang terlihat, melainkan melihat kedalaman hati dan ketulusan dalam menjalani kehidupan.

“Tuhan melihat kedalaman hati manusia, bukan sekadar polesan yang menutupi kotornya tindakan lahiriah,” demikian refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC.
Karena itu, manusia diajak meninggalkan kebiasaan berpura-pura baik, saleh, dan rajin hanya untuk memperoleh penghormatan atau pujian. “Hentikan kebiasaan berpura-pura baik, saleh, rajin, demi mencari hormat dan pujian,” pesannya.

Hati yang bersih justru terlihat melalui ketulusan dalam memberi dan melayani, kerendahan hati, kejujuran, serta keadilan dalam bertindak. Iman tidak cukup hanya tampak dalam kata-kata dan penampilan, tetapi harus diwujudkan melalui perbuatan nyata.

“Rawatlah hatimu dengan hidup benar dan pantas di hadapan Tuhan dan sesama. Hati yang bersih melahirkan tindakan kasih tanpa pamrih.”

Refleksi ini mengajak setiap pribadi untuk berani memeriksa hati dan hidup dalam ketulusan. Sebab, manusia dapat tertipu oleh penampilan, tetapi Tuhan tidak pernah tertipu oleh polesan lahiriah.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *