http://lensa publik.my.id | Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku | 23 Juli 2026 – Ada jeritan yang tidak selalu terdengar oleh telinga. Ada kesedihan yang tidak selalu tampak oleh mata. Ada pula pergumulan hidup yang disimpan rapat-rapat di kedalaman hati seseorang, menunggu kehadiran orang lain yang bersedia mendengar tanpa menghakimi.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, manusia kerap berjalan beriringan tanpa benar-benar saling melihat. Banyak orang hadir secara fisik, tetapi belum tentu hadir dengan hati. Karena itu, kepekaan terhadap penderitaan sesama menjadi panggilan iman yang tidak boleh kehilangan tempat dalam kehidupan umat beriman.
Pesan rohani tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Berangkat dari perikop Injil Matius 13:10-17, Pastor Pius mengajak umat untuk membuka mata, telinga, dan hati agar mampu menangkap kehadiran Tuhan melalui kehidupan sesama.
Ketika Mata Melihat, tetapi Hati Belum Terbuka
Dalam refleksinya, Pastor Pius mengangkat perkataan Yesus mengenai rahasia Kerajaan Surga yang tidak dipahami oleh semua orang. Perumpamaan yang disampaikan Yesus menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat mendengar sebuah pewartaan, tetapi belum tentu mampu menangkap makna terdalam yang terkandung di dalamnya.
“Kalian diberi karunia mengetahui rahasia kerajaan Surga, tetapi mereka tdk,” demikian pesan yang dikutip dalam refleksi tersebut.
Pesan itu membawa umat pada sebuah permenungan yang lebih dalam. Mendengar bukan sekadar menggunakan telinga. Melihat juga bukan hanya perkara mata. Sebab, ada realitas kehidupan yang baru dapat dipahami ketika seseorang memiliki hati yang terbuka dan kepekaan batin terhadap keadaan di sekitarnya.
Bagi Pastor Pius, panggilan sebagai anak Tuhan sekaligus membawa tanggung jawab untuk mengembangkan kepekaan tersebut. Umat tidak hanya dipanggil untuk mengenal Tuhan melalui doa dan pewartaan, tetapi juga untuk menemukan kehadiran-Nya dalam diri orang-orang yang ditemui setiap hari.
Menangkap Jeritan yang Tidak Terdengar
Di balik wajah yang tampak biasa, bisa jadi ada seseorang yang sedang memikul beban berat. Di balik senyum seorang sahabat, mungkin tersimpan pergumulan yang tidak pernah diceritakan. Bahkan, di tengah keramaian sekalipun, seseorang dapat merasa sendirian dan membutuhkan tempat untuk didengar.
Karena itu, membuka hati berarti belajar menangkap jeritan yang tidak selalu terucapkan. Ada orang yang membutuhkan telinga untuk mendengarkan. Ada yang membutuhkan pikiran dan kebijaksanaan untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan hidup. Ada pula yang tidak membutuhkan banyak kata, tetapi membutuhkan tindakan kasih yang nyata.
Pesan tersebut menjadi ajakan agar iman tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam kepedulian. Sebab, kepekaan terhadap sesama merupakan salah satu bentuk nyata dari kasih yang hidup.
Kasih yang Hadir dalam Tindakan
Dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian sering kali hadir melalui hal-hal sederhana. Mendengarkan seseorang yang sedang berduka, menemani mereka yang kesepian, membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan, atau sekadar memberikan waktu kepada mereka yang merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Hal-hal sederhana itu mungkin tampak kecil, tetapi bagi seseorang yang sedang berada dalam titik terendah kehidupannya, kehadiran seorang sahabat dapat menjadi kekuatan yang sangat berarti.
Pesan Pastor Pius mengingatkan bahwa manusia tidak hidup seorang diri. Setiap orang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk melihat kehidupan orang lain dengan hati yang penuh kasih.
“Banyak org disekitarmu butuh kehadiranmu utk mendengarkan, butuh pikiranmu utk mendapatkan solusi atas kebuntuan hidup, butuh tindakan kasih demi meringankan beban hidup,” demikian pesan reflektif tersebut.
Kalimat itu menyentuh sebuah kenyataan sederhana, bahwa tidak semua orang membutuhkan sesuatu yang besar. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang hanyalah kehadiran. Ada yang ingin didengar tanpa disela. Ada yang ingin dimengerti tanpa dihakimi. Ada pula yang membutuhkan uluran tangan ketika kekuatan dirinya mulai melemah.
Membuka Hati sebagai Jalan Menemukan Tuhan
Dalam perspektif iman Kristiani, kasih kepada sesama bukan sekadar tindakan sosial, melainkan bagian dari panggilan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan manusia.
Ketika seseorang membuka hatinya untuk mendengarkan penderitaan orang lain, di sanalah nilai kasih menemukan wujudnya. Ketika seseorang memilih membantu daripada berpaling, di sana pula iman menjadi nyata dalam kehidupan.
Pesan rohani Pastor Pius menjadi sebuah undangan untuk melakukan introspeksi. Apakah mata kita benar-benar melihat mereka yang sedang menderita? Apakah telinga kita bersedia mendengar keluhan yang mungkin selama ini terabaikan? Dan yang paling penting, apakah hati kita masih memiliki ruang untuk merasakan beban hidup orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting di tengah kehidupan yang sering kali membuat manusia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Meringankan Beban, Menghidupkan Harapan
Pada akhirnya, membuka hati berarti berani keluar dari kenyamanan diri untuk hadir bagi sesama. Tidak selalu harus dengan sesuatu yang besar. Sebuah percakapan yang tulus, perhatian yang sederhana, bantuan yang ikhlas, atau kesediaan untuk menemani seseorang melewati masa sulit dapat menjadi bentuk kasih yang sangat berarti.
Pastor Pius mengajak umat untuk tidak membiarkan jeritan sesama berlalu begitu saja tanpa perhatian. “Buka hatimu utk menangkap jeritan sesama dan ringankan beban hidup mereka,” demikian ajakannya.
Pesan tersebut menjadi refleksi yang relevan bagi siapa saja. Sebab, di tengah kehidupan yang terus bergerak, masih ada begitu banyak suara yang menunggu untuk didengar dan begitu banyak hati yang berharap untuk dipahami.
Membuka mata, telinga, dan hati pada akhirnya bukan hanya tentang melihat penderitaan orang lain. Lebih dari itu, adalah tentang keberanian untuk hadir, peduli, dan bertindak. Karena di dalam kepedulian terhadap sesama, manusia tidak hanya meringankan beban kehidupan orang lain, tetapi juga menghadirkan kasih Tuhan dalam bentuk yang nyata.(Editor: jk)
Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC












