Panggilan Kasih dari Lauran: Berani Berdiri dan Meninggalkan Pendosa Masa Lalu

Pesan Pastoral Pastor Pius Heljanan: Memahami Belas Kasih Allah yang Mengubah Hidup

​LAURAN | https://lensa publik.my.id – Senin, 21 September 2026.

​Di tengah ketenangan Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, alunan permenungan rohani membawa pesan mendalam bagi setiap pribadi yang sedang berjuang dalam perjalanan hidupnya. Kehadiran firman Tuhan senantiasa menjadi cermin reflektif untuk memelihara iman dan keteguhan hati umat Katolik di wilayah setempat.

​Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, membagikan permenungan rohani yang menyentuh nurani mengenai pemaknaan panggilan Tuhan bagi orang-orang berdosa.

​Kasih Allah Memanggil Setiap Pribadi

​Melalui permenungan Injil Matius bab 9 ayat 9 hingga 13, Pastor Pius mengingatkan bahwa Allah tidak pernah memandang manusia dari kesempurnaan lahiriah maupun latar belakang masa lalu. Sosok Matius yang dikenal sebagai seorang pemungut cukai atau Lewi, pada masa itu kerap dipandang sebelah mata dan dicap sebagai pendosa oleh lingkungan sosialnya. Namun, belas kasih Allah terbukti jauh lebih besar melebihi sekumpulan dosa manusia.

​Pastor Pius Heljanan, MSC menegaskan narasi penuh makna tersebut melalui kutipan langsung permenungannya:

​”Aku datang bukan memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

​Kutipan firman tersebut menjadi bukti nyata bahwa Tuhan menyapa siapa saja tanpa membedakan status moral manusia. Ketika sapaan ilahi itu hadir, Matius menyadari betapa besarnya kerahiman Allah. Ia memilih berdiri, merelakan pekerjaan lamanya, dan melangkah mantap untuk mengikuti Yesus hingga membalas kasih tersebut melalui tulisan Injil yang diwariskannya.

​Keberanian untuk Berdiri dan Berubah

​Panggilan Tuhan bukanlah syarat yang menuntut manusia untuk menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum melangkah. Tuhan mengenal setiap insan secara utuh, dengan segala kelebihan maupun batas kekurangannya.

​”Sadarilah, Tuhan tidak memanggil orang sempurna, tetapi menyempurnakan orang yang dipanggil-Nya,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.

​Akan tetapi, tidak semua orang memiliki keberanian untuk bersedia “berdiri” saat panggilan itu menyapa. Berdiri dan mengikuti Tuhan mengandung konsekuensi moral yang nyata, yakni tekad bulat untuk meninggalkan cara hidup yang lama serta menjauhi segala bentuk perbuatan dosa.

​Mengakhiri permenungannya, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak seluruh umat agar tidak mengabaikan uluran tangan dan panggilan kasih Allah yang menghendaki keselamatan bagi setiap manusia.

​(Editor: johanis kopong)

(Sumber: Renungan Pastoral Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *