Mengakui Mesias yang Tersalib: Menemukan Keteguhan Rohani saat Diterpa Pergumulan Hidup
Lauran, https://lensapublik.my.id – Kehidupan manusia kerap kali bergerak dalam ritme yang tidak bisa ditebak. Ada kalanya langkah terasa ringan saat diselimuti kebahagiaan, keberhasilan, dan hangatnya rasa dikasihi. Namun, tak jarang pula alur kehidupan membawa seseorang melintasi lorong-lorong kelam penderitaan, kegagalan, hingga rasa kehilangan yang mendalam.
Di tengah dinamika pasang surut tersebut, bagaimana sejatinya seorang beriman memandang makna kehidupan dan keyakinannya?
Pengenalan Pribadi, Bukan Kata Orang
Pertanyaan mendasar ini menjadi permenungan rohani yang disampaikan oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Dalam refleksinya, beliau menggarisbawahi bahwa iman yang dihayati oleh seorang umat seyogianya berakar dari pengenalan yang intim dan pribadi dengan Sang Pencipta, bukan sekadar mengikuti prasangka atau tutur kata orang lain.
Mengutip pemikiran dasar dari Injil Lukas bab 9 ayat 18 sampai 22, pengakuan iman akan hadirnya Mesias membutuhkan pemahaman yang utuh mengenai karya keselamatan yang diusung-Nya.
“Engkaulah Mesias dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC, mengutip pesan Kitab Suci.
Salib: Sarana Pemuliaan dan Pemurnian Iman
Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa Mesias yang diimani oleh umat Katolik adalah Dia yang menebus manusia melalui jalan salib, sebuah jalan yang melintasi penderitaan, penolakan, hingga kematian. Oleh karena itu, mengakui Yesus sebagai Mesias berarti siap menerima kenyataan bahwa salib adalah bagian tak terpisahkan dari peziarahan iman.
Bagi beliau, salib yang dipikul dalam dinamika keseharian sama sekali bukanlah wujud akhir dari sebuah kisah kegagalan. Sebaliknya, salib merupakan sarana pemuliaan dan penebusan yang dihadirkan Tuhan untuk menempah jiwa manusia.
“Percaya Yesus tidak berarti bebas dari penderitaan, masalah, dan pergumulan. Kondisi sulit yang kita alami adalah bagian dari cara Tuhan memurnikan iman dan membentuk kematangan hidup rohani,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.
Setia Memikul Salib Mengikuti Kristus
Melalui refleksi yang sejuk ini, umat diajak untuk melihat setiap tantangan hidup dengan kacamata iman yang baru. Menjadi pengikut Kristus tidak hanya melulu tentang mengharapkan kemuliaan dan kemudahan, melainkan juga tentang kesediaan untuk tetap setia belajar memikul salib masing-masing dalam setiap langkah kehidupan.
Mengakui Yesus yang bergantung di kayu salib menjadi wujud keteguhan iman—sebuah sikap pasrah dan percaya bahwa di balik setiap pergumulan, ada proses pembentukan rohani menuju pemuliaan yang sejati.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran)












