https://lensapublik.my.id| Saumlaki, Senin, 10 Agustus 2026 – Peringatan Pesta Santo Laurensius menjadi momentum reflektif bagi anak-anak dan umat di lingkungan Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Perayaan tersebut tidak hanya menghadirkan dimensi liturgis, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai kasih, kesederhanaan, ketekunan dalam doa, serta semangat pelayanan kepada generasi muda.
Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, memberikan perhatian kepada anak-anak yang terlibat dalam pelayanan liturgi, termasuk lektor, pemazmur, serta anak-anak Panti Asuhan ALMA. Perhatian tersebut diwujudkan melalui bantuan uang jajan sekolah yang diberikan sebagai ungkapan kasih dan kepedulian Gereja.
Bagi Gimri Londar, siswa Kelas VI SD Donbosco 3 Saumlaki yang bertugas sebagai lektor, kesempatan melayani di mimbar menjadi pengalaman yang penuh sukacita. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat mengambil bagian dalam pelayanan Gereja.
“Terima kasih banyak, Pastor Ponsio. Saya sangat bersyukur dan bahagia pagi ini. Bisa berdiri di mimbar melayani sebagai lektor dan membacakan Sabda Tuhan adalah sukacita yang luar biasa bagi saya.”

Gimri juga menyampaikan bahwa bantuan yang diterimanya memiliki arti tersendiri bagi dirinya, terutama sebagai bekal untuk menjalani aktivitas sekolah.
“Bantuan uang jajan dari Pastor sangat berarti untuk bekal saya ke sekolah hari ini. Semoga Santo Laurensius senantiasa mendoakan Pastor agar selalu sehat dan penuh semangat dalam melayani kami.”
Hal senada disampaikan Maria Samangun, siswa Kelas VI SD Inpres Saumlaki yang bertugas sebagai pemazmur. Baginya, pelayanan di altar bukan sekadar tugas liturgis, tetapi menjadi pengalaman iman yang menghadirkan kedamaian sekaligus mendorongnya untuk semakin tekun dalam kehidupan menggereja.
“Terima kasih yang mendalam saya haturkan kepada Pastor Ponsio. Setiap kali mendapat kesempatan melantunkan Mazmur Tanggapan di altar Tuhan, hati saya merasa penuh damai.”

Maria mengatakan, perhatian dan bantuan kasih yang diberikan Pastor Ponsio menjadi dorongan untuk semakin rajin mengikuti perayaan Ekaristi dan meningkatkan semangat belajar.
“Perhatian dan bantuan kasih dari Pastor hari ini makin membakar semangat saya untuk rajin melayani, rajin mengikuti Misa pagi, dan makin giat belajar di sekolah. Semoga Tuhan Yesus membalas semua kebaikan Pastor.”
Ungkapan syukur juga datang dari anak-anak Panti Asuhan ALMA. Mereka melihat perhatian yang diberikan Pastor Paroki sebagai bentuk kepedulian Gereja yang membuat mereka merasa diperhatikan dan dicintai.
“Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Pastor Paroki atas kepedulian dan kasihnya kepada kami. Uang jajan sekolah yang Pastor bagikan pagi ini sungguh membuat kami tersenyum dan merasa sangat dicintai.”
Menurut mereka, perhatian tersebut bukan semata-mata mengenai nilai bantuan yang diterima, melainkan pesan kasih yang menyertainya. Mereka pun berkomitmen untuk tetap tekun mengikuti Misa dan mendoakan Pastor serta para pengasuh.
“Perhatian kecil ini menjadi pendorong bagi kami untuk selalu setia bangun pagi, mengikuti Misa, dan mendoakan Pastor serta para pengasuh kami di Panti Asuhan ALMA.”
Harta Sejati Gereja
Dalam nasihat pastoralnya pada Pesta Santo Laurensius, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak anak-anak melihat kehidupan Gereja bukan semata-mata dari sisi material.
Ia mengangkat kembali keteladanan Santo Laurensius, seorang diakon dan martir yang dalam tradisi Gereja dikenal karena keberaniannya membela dan memperhatikan mereka yang miskin serta membutuhkan.
“Anak-anakku yang terkasih dalam Kristus, Hari ini Gereja memperingati Pesta Santo Laurensius, seorang Diakon dan Martir yang dengan tegas mengajarkan kepada kita bahwa harta sejati Gereja adalah orang-orang yang rendah hati, anak-anak, dan mereka yang dikasihi Tuhan.”
Dalam refleksi tersebut, Pastor Ponsio juga mengaitkan peringatan Santo Laurensius dengan Novena Santa Klara hari keenam.
Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk belajar mengenai kesederhanaan dan ketekunan dalam doa.
“Kita juga sedang berada pada Novena Santa Klara hari ke-6, belajar tentang kesederhanaan dan ketekunan berdoa.”
Pastor Ponsio menegaskan bahwa bantuan kasih yang diberikan kepada anak-anak mungkin sederhana dari sisi nilai material. Namun, makna utamanya terletak pada ketulusan hati serta perhatian Gereja kepada generasi muda.
“Bantuan kasih yang Pastor berikan pagi ini mungkin nilainya sangat kecil dan sederhana, tetapi terimalah itu sebagai wujud syukur dan tanda kasih Gereja atas ketulusan hati kalian.”

Menjaga Kehormatan Pelayanan
Kepada Gimri dan Maria, Pastor Ponsio secara khusus berpesan agar keduanya menjaga tanggung jawab dan kehormatan pelayanan liturgis yang dipercayakan kepada mereka.
“Untuk Gimri dan Maria, teruslah jaga kehormatan tugas pelayanan kalian di altar sebagai lektor dan pemazmur yang baik.”
Pesan tersebut menempatkan pelayanan anak-anak di altar bukan sekadar aktivitas tambahan dalam perayaan Misa, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan iman sejak usia dini.
Sementara kepada anak-anak Panti Asuhan ALMA dan seluruh anak sekolah dasar, Pastor Ponsio mengajak mereka untuk membangun kebiasaan hadir dalam Misa pagi.
“Untuk anak-anakku dari Panti Asuhan ALMA dan seluruh anak sekolah dasar, tetaplah setia dan rajin hadir dalam Misa pagi.”
Ekaristi sebagai Kekuatan Sebelum Belajar
Dalam pesan penutupnya, Pastor Ponsio mengarahkan anak-anak untuk menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan sebelum menjalani aktivitas sehari-hari, khususnya kegiatan belajar di sekolah. “Jadikanlah Ekaristi sebagai kekuatan kalian sebelum memulai aktivitas belajar di sekolah.”
Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kehidupan iman, pendidikan, sikap hormat kepada guru dan pengasuh, serta pembentukan karakter yang rendah hati.
“Rajinlah belajar, hormati guru dan pengasuh kalian, serta jadilah anak-anak yang rendah hati. Semoga berkat Tuhan melimpahi langkah kalian hari ini.”
Pesan pastoral tersebut memperlihatkan bahwa peringatan Pesta Santo Laurensius tidak berhenti pada perayaan liturgi. Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran iman anak-anak melalui pelayanan, pendidikan, kepedulian sosial, dan keteladanan hidup sederhana.
Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah, perhatian kepada anak-anak menjadi bagian penting dari tugas pastoral Gereja. Pelayanan di altar, kehadiran dalam Ekaristi, ketekunan belajar, penghormatan kepada guru dan pengasuh, serta kepedulian terhadap sesama menjadi nilai-nilai yang diharapkan tumbuh secara bersamaan dalam diri generasi muda.
Rangkaian pesan itu kemudian ditutup dengan ungkapan khas yang disampaikan:
“RATU NORKIT MONUK DEDESAR. UBILAA NORANG ITA DIDTINEMUN. SALVE….. KIDABELA…” (Editor: joko)
(Sumber: Refleksi: RD Ponsianus Ongirwalu)












