Kemuliaan Tabor Meneguhkan Iman di Tengah Pergumulan Hidup

 

lensapublik.my.id | Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Kamis, 6 Agustus 2026 – Di tengah kehidupan yang terus berubah, ketika keberhasilan sering menghadirkan banyak sahabat dan kegagalan kerap menyisakan kesendirian, umat diajak untuk kembali menempatkan iman sebagai fondasi utama kehidupan.

Pesan itulah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, melalui refleksi rohani bertajuk “Yesus Cukup Bagiku” yang berangkat dari permenungan Injil Matius 17:1–9 tentang peristiwa Transfigurasi Tuhan di Gunung Tabor.

Bagi Pastor Pius, peristiwa ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan kemuliaan Kristus bersama Musa dan Elia bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan penegasan bahwa di balik setiap pengalaman hidup,

hanya Tuhan yang tetap setia menyertai manusia. Ketika awan kemuliaan berlalu dan Musa serta Elia tidak lagi terlihat, para murid hanya mendapati Kristus seorang diri.

“Mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri,” demikian kutipan Injil yang menjadi dasar refleksi Pastor Pius.

Menurutnya, pengalaman para murid di Gunung Tabor memiliki makna yang sangat dekat dengan realitas kehidupan manusia.

Ketika seseorang berada di puncak kesuksesan, memiliki jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh, banyak orang datang menawarkan persahabatan, mengaku sebagai keluarga, bahkan ingin berada di sekelilingnya. Namun, keadaan dapat berubah ketika kehidupan memasuki masa-masa sulit.

“Ingat, disaat kita dipuncak karier, sukses, punya jabatan, kekuasaan, uang dan harta, banyak orang menyebut kita keluarga dan saudara. Tetapi ketika kita gagal dalam usaha, turun jabatan, uang pas-pasan, orang-orang meninggalkan kita, seolah-olah tidak mengenal kita lagi. Yang tetap ada bersamamu hanyalah Yesus. Musa dan Elia pun tidak kelihatan,” ungkap Pastor Pius.

Refleksi tersebut mengajak umat untuk menyadari bahwa nilai kehidupan tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang hadir ketika masa kejayaan datang, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam setiap musim kehidupan.

Kesuksesan, jabatan, maupun kekayaan bersifat sementara, tetapi kasih Tuhan tetap tinggal.

Pastor Pius menegaskan bahwa pesan Injil tentang Transfigurasi juga menghadirkan penghiburan bagi siapa pun yang sedang memikul beban hidup.

Ketika para murid diliputi ketakutan setelah menyaksikan kemuliaan Tuhan, Kristus menghampiri mereka dengan sapaan yang menenangkan.

“Berdirilah, jangan takut.” Kalimat sederhana itu, menurut Pastor Pius, menjadi kekuatan bagi setiap orang beriman untuk bangkit dari keputusasaan, menghadapi kegagalan, serta melangkah dengan harapan baru karena Tuhan tetap berjalan bersama umat-Nya.

“Dia Tuhan yang setia bersamamu dalam setiap peristiwa hidup,” tutur Pastor Pius.

Lebih jauh, Pastor Pius mengajak umat untuk tidak hanya mengagumi kemuliaan Gunung Tabor sebagai sebuah peristiwa iman, tetapi menjadikannya sebagai pengalaman rohani yang membentuk cara hidup sehari-hari.

Kesetiaan kepada Tuhan dalam doa, pengharapan di tengah kesulitan, serta kasih kepada sesama merupakan jalan yang akan membawa setiap orang mengalami kemuliaan Allah dalam kehidupannya.

“Bila kita setia bersama-Nya, kita pun akan mengalami kemuliaan Tabor,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.

Refleksi tersebut menjadi pesan yang relevan bagi umat beriman di tengah tantangan zaman. Ketika dunia menawarkan ukuran keberhasilan yang bersifat sementara, iman mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kedekatan dengan Tuhan.

Di saat manusia datang dan pergi, ketika keadaan berubah tanpa dapat diprediksi, kesetiaan Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan yang tidak pernah padam bagi setiap orang yang percaya. (Editor: johanis kopong) (Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *