Banjarmasin, Lensapublik.my.id –
Bunyi gunting yang beradu dengan sisir terdengar di salah satu sudut kegiatan kerja Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, Sabtu (24/10). Dengan penuh ketelitian, warga binaan merapikan rambut, memperhatikan bentuk potongan, dan memastikan hasilnya sesuai dengan kebutuhan. Di balik aktivitas sederhana ini, ada keterampilan yang terus diasah sebagai bekal untuk menata masa depan.
Kegiatan pangkas rambut menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengembangkan kemampuan praktis. Setiap proses membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsentrasi, mulai dari mengenali bentuk rambut, menggunakan alat dengan tepat, hingga menghasilkan potongan yang rapi.
Kasi Giatja Lapas Banjarmasin, Bagus Paras Etika, menyampaikan bahwa keterampilan pangkas rambut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bekal kerja maupun usaha mandiri.
“Kami mendorong warga binaan untuk terus mengasah kemampuan pangkas rambut, mulai dari ketepatan teknik memotong, kerapian hasil, hingga kebersihan peralatan. Keterampilan ini memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi jasa atau usaha mandiri, sehingga dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Kasi Giatja.
Bagi warga binaan, kegiatan ini bukan hanya tentang menguasai teknik memotong rambut. Mereka juga belajar menjaga kebersihan peralatan, bekerja dengan cermat, serta memberikan pelayanan yang baik kepada orang lain. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sikap profesional yang dapat diterapkan dalam dunia kerja.
Secara terpisah, Kepala Lapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian perlu diarahkan pada keterampilan yang memiliki manfaat nyata setelah warga binaan menyelesaikan masa pembinaan.
“Kami ingin setiap program pembinaan memberikan bekal yang bisa dimanfaatkan warga binaan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan keterampilan yang terus dikembangkan, mereka diharapkan memiliki kepercayaan diri dan peluang untuk bekerja maupun berusaha secara mandiri setelah kembali ke masyarakat,” tegas Kalapas.
Melalui kegiatan pangkas rambut, warga binaan memiliki kesempatan untuk mengenali potensi diri sekaligus mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kemampuan yang terus dilatih dapat menjadi modal awal untuk memperoleh pekerjaan, membantu usaha keluarga, atau merintis usaha sendiri.
Di balik setiap potongan rambut yang dirapikan, tersimpan proses belajar yang membutuhkan ketekunan. Langkahnya mungkin sederhana, tetapi keterampilan yang dibangun hari ini dapat menjadi awal bagi warga binaan untuk menata masa depan yang lebih mandiri.
Lapas Banjarmasin terus mendorong pembinaan kemandirian yang berorientasi pada pengembangan keterampilan dan kesiapan warga binaan untuk kembali berperan positif di tengah masyarakat. (Humas Lapas Banjarmasin)














