Belajar Rendah Hati dari Lauran: Mengapa Salib Lebih Utuh Dibanding Tepuk Tangan Dunia?
LAURAN | https://lensapublik.my.id – Sabtu, 26 September 2026. Di tengah riuh rendah kehidupan modern yang sering kali mengukur keberhasilan dari tepuk tangan dan pujian manusia, ada panggilan mendalam untuk kembali melihat pada kesederhanaan iman. Sebuah perenungan rohani yang teduh mengajak umat Katolik untuk tidak mudah terbuai oleh sanjungan dunia, melainkan tetap setia mengarahkan pandangan kepada salib Kristus.
Keagungan yang Tidak Menyilaukan
Banyak orang, termasuk para murid pada zaman-Nya, dibuat takjub dan kagum oleh berbagai mukjizat serta perbuatan besar yang dilakukan oleh Yesus. Sebagai pribadi yang agung, Ia sangat pantas untuk dikagumi. Namun, di balik segala rasa kagum dan sanjungan yang mengalir dari orang banyak, Yesus tidak pernah terlena atau mabuk oleh pujian tersebut.
Sebaliknya, pada saat yang bersamaan, Yesus justru mengarahkan perhatian para murid-Nya pada realitas salib dan makna pengorbanan yang sejati.
”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC, merujuk pada petikan Kitab Suci Injil Lukas bab 9 ayat 43b sampai 45.
Batas Tipis Antara Pujian dan Tudingan
Pastor Pius Heljanan, MSC, yang bertugas sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, mengingatkan betapa biasanya dinamika kehidupan manusia berubah. Tangan dan mulut yang hari ini memberikan penghargaan, bisa saja menjadi hal yang paling melukai di kemudian hari.
”Dapat terjadi tangan yang bertepuk hari ini atas keberhasilanmu, tangan yang sama mendorong menjatuhkanmu. Tangan yang mengelukan atas perbuatan baikmu, tangan yang sama menunjuk, menuduh, dan menghakimu,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.
Ia menambahkan bahwa mulut yang bersorak memuji langkah hebat seseorang hari ini, sangat mungkin di hari esok menjadi mulut yang mencibir, memfitnah, dan melukai hati. Oleh karena itu, Yesus tidak pernah merasa bangga atau terbuai hanya karena pujian dari orang banyak. Yesus berbicara tentang salib sebagai bukti cinta yang paling sempurna.
Mencari Salib Demi Kehidupan Kekal
Di era sekarang, tidak sedikit orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar mukjizat, harta benda, kedudukan, jabatan, maupun popularitas semata. Padahal, Yesus menghendaki setiap umat-Nya untuk mencari dan memeluk salib sebagai jalan menuju kehidupan kekal.
”Jangan mabuk pujian, jangan terbuai sorak, tetapi percayalah pada salib Tuhan. Ketika pujian mendatangimu, peluklah salib,” pesan Pastor Pius Heljanan, MSC menutup perenungannya.
melalui warta reflektif ini, umat diajak untuk senantiasa rendah hati, menjaga kedalaman batin, dan menjadikan salib sebagai pegangan utama dalam mengarungi gelombang kehidupan.
Editor: johanis kopong
(Sumber: Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran / Renungan Pastor Pius Heljanan, MSC)












