Menegur dengan Kasih, Memulihkan Persaudaraan
https://lensa publik.my.id | Lauran, Rabu, 12 Agustus 2026 – Persaudaraan tidak selalu berarti membiarkan kesalahan berlalu tanpa koreksi. Dalam kehidupan bersama, kasih justru terkadang menuntut keberanian untuk menegur. Namun teguran dalam iman Kristiani bukanlah tindakan untuk mempermalukan atau menghakimi, melainkan sebuah jalan untuk memulihkan hubungan dan mengembalikan seseorang kepada kebenaran.
Refleksi tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Berangkat dari ajaran Yesus dalam Matius 18:15-20, ia mengajak umat memahami koreksi terhadap sesama sebagai bagian dari tanggung jawab kasih dalam persaudaraan.
Menegur Tanpa Menghakimi
“Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu, engkau telah mendapatnya kembali.” Pesan Injil tersebut menempatkan teguran bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai kesempatan untuk memperoleh kembali seorang saudara yang tersesat dalam kesalahan.
Pastor Pius menekankan bahwa Yesus mengajarkan umat untuk menolong sesama yang jatuh dalam dosa dengan kasih, bukan dengan sikap menghakimi.
“Menegur dengan kasih tanpa menghakimi.” Prinsip itu penting karena koreksi yang kehilangan kasih dapat berubah menjadi penghukuman. Sebaliknya, kasih yang tidak berani mengoreksi dapat membuat seseorang terus berada dalam kesalahan.
Karena itu, teguran harus lahir dari kepedulian, dilakukan secara bijaksana, dan diarahkan pada pemulihan.
Ketika Teguran Ditolak
Persoalan menjadi lebih berat ketika seseorang tidak bersedia menerima koreksi. Pastor Pius mengingatkan bahwa tidak semua orang yang bersalah siap menerima teguran. “Ada orang berdosa yang sombong, menolak dikoreksi. Mereka akan balik menyerangmu, membenci dan mendendam.”
Dalam situasi seperti itu, seorang Kristiani tidak dipanggil untuk membalas kebencian dengan kebencian. Ia justru diajak mempertahankan sikap kasih, meskipun kasih tersebut tidak selalu segera diterima.
“Jangan mundur dalam menolongnya. Ingat, dia saudaramu yang terbelenggu dosa.”
Kalimat tersebut menjadi inti refleksi tentang persaudaraan. Kesalahan seseorang tidak serta-merta menghapus statusnya sebagai saudara. Karena itu, koreksi tidak boleh berubah menjadi permusuhan, pengucilan, atau kebencian.
Doa Ketika Kata-Kata Tidak Lagi Cukup
Ada saat ketika nasihat tidak diterima dan pendekatan manusiawi menemui jalan buntu. Pada titik itu, doa menjadi bentuk kasih yang tetap dapat dilakukan. “Jangan memusuhi atau menolaknya. Bawa dia dalam doamu.”
Bagi Pastor Pius, doa bukan pelarian dari persoalan, melainkan bentuk penyerahan kepada Tuhan ketika kemampuan manusia memiliki batas. “Tuhan akan bertindak menolongnya, bila semakin banyak orang mendoakannya.”
Di sinilah rekonsiliasi memperoleh dimensi rohaninya. Pemulihan tidak hanya bergantung pada kemampuan manusia untuk berbicara, tetapi juga pada rahmat Tuhan yang bekerja dalam hati seseorang.
Koreksi yang Membuka Jalan Pulang
Pada akhirnya, teguran Kristiani bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tujuannya adalah agar seseorang kembali kepada relasi yang benar dengan Tuhan dan sesama.
“Tegur saudaramu yang bersalah dengan kasih agar dia berbalik berdamai dengan Tuhan dan sesama.” Pesan ini menempatkan rekonsiliasi sebagai tujuan akhir dari koreksi persaudaraan.
Kesalahan tidak boleh dinormalisasi, tetapi orang yang melakukan kesalahan juga tidak boleh kehilangan kesempatan untuk berubah. Dalam terang Injil, menegur dengan kasih berarti berani mengatakan yang benar sekaligus tetap membuka pintu bagi pertobatan.
Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, sebagaimana mengoreksi bukan berarti membenci orang yang bersalah. Persaudaraan yang matang adalah persaudaraan yang mampu mengatakan kebenaran tanpa kehilangan kasih.
Dan ketika teguran diterima, pertobatan terjadi, serta hubungan dengan Tuhan dan sesama dipulihkan, di situlah koreksi menemukan maknanya yang paling dalam: bukan menjauhkan seorang saudara, melainkan membawanya kembali.
(Editor: johanis kopong)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)












